Photobucket Dapatkan Uang Dengan Hanya melihat-lihat iklan yang ada, mudah dan menyenangkan, cobalah sekarang juga, GRATIS ! klik diatas
Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2008

Pengasuh Hewan Bagian 6

Setelah mengeringkan badanku dengan handuk, aku melingkarkan hnduk itu dibadanku, menutupi buah dada dsampai pahaku yang mulus….kubiarkan Joki sendirian di halaman terbengong-bengong dengan apa yang baru saja dia lakukan padaku…ebih tepatnya apa yang aku lakukan padanya…

Aku masuk kedalam kamarku bermaksud beragnti pakaian…ketika pinti kututup, Tokang kecil sedang didalam, namun aku tidak terlalu memperhatikannya, sejak dia sekamar denganku, aku memang sering bugil didepannya, Tokang kecil sepertinya belum mengerti “kegunaan kelamin” jadi aku santai santai saja telanjang dihadapannya…

Saat kubalikan badankumonyet kecil itu melompat padaku (memang dia sering melakukannya karena dia sayang padaku). Kali ini Tokang dengan cekatan menysupkan tangannya kebalik handukku, tujuannya sudah bisa kuduga, dia ingin menetek.

Namun bersamaan dengan itu ekor mataku menatap sosok lain di dalam kamar kami, seekor jantan berbulu emas sedang berada disitu (belakangan aku tahu dia diberi nama Kororo, usianya sekitar kera remaja) entah kapan dan bagaimana dia disitu, aku agak gugup…tapi semua sudah “agak” terlambat....rogohan tangan Tokang membuyarkan ikatan handukku, praktis handuk yang satu satunya melindungi tubuhku terlepas dari ikatannya….

Handuk itu melorot kebawah secepat pikiranku yang tersadar kembali…dengan sigap kutangkap ujung handuk itu dengan tangan kananku dan berusaha menutupi auratku yang terekspose bebas…

Agak risih rasanya, bagaimanapun aku seorang wanita yang telah menikah, dan seekor jantan asing yang (kupikir) telah siap kawin melihatku berbugil ria di sebuah kamar sempit 3 x 4 meter. Tentu saja tangan kananku berusaha menutupi kewanitaanku dengan handuk itu, walaupun kini bokongku terlihat bebas tanpa “pengaman”.

Hal yang buruk menyusul, tidak berhenti disitu saja, berat badan Tokang telah meningkat drastis, dengan melakukan lompatan seperti itu ke tubuhku dia membuat keseimbanganku goyang, aku tidak bisa berdiri dengan benar, dan masih untung aku terjatuh di bed tidur, dan semuanya terjadi begitu cepat…

Tokang tengkurap diatas dadaku, dia tidak peduli apapun, mulutnya dengan cekatan menydot air susu dari putingku. Kubiarkan monyet kecil ini menikmatinya, menghisap hisap putting susuku, entah apa yang mas Heru lakukan jika dia tahu ini juga adalah bagian dari “paket bonus” pekerjaan yang kuterima.

Sesaat aku menjadi bgitu sibuk dengan Tokang yang begitu bergumul dengan kedua payudaraku yang kencang dan mulus, kedua tanganku sibuk menjaga badannya agar berada dalam posisi “proporsional”. Tiba-tiba aku lupa memegang handuk yang menutupi auratku, karena konstrasiku pada Tokang.

Tubuhku benar benar terkunci dibawah Tokang, tubuhnya yang berat tidak sanggup aku geserkan. Tba tiba aku merasaan sesuatu…monyet emas remaja (Kororo) itu membuka handuk penutup tubuhku satu satunya…aku terkejut bukan main…sementara Tokang sibuk membenamkan kepalanya di dadaku, monyet muda itu menghempaskan handukku ke lantai…kini vaginaku terlihat sempuran olehnya…ya ! aku gugup setengah mati …bagaimana jika monyet ini birahi terhadap liang kemaluanku ? jika Joki saja berkinginanseperti itu, bagaimana dengannya ?

Sesaat matanya yang bulat hitam tampak tercenung melihat gundukan hitam yang terpampang dihadaannya…bibir vaginaku yang gemuk memperlihatkan garis “membelah vertikal” yang sangat jelas, perlahan jantunku mulai berdebar saat tangan Kororo menyentuh kemaluanku…menyentuh saja…menggesek dua, tiga kali….wajahnya yang tanpa ekspresi membuatku berpkir jika Kororo juga seperti Tokang yang tidak tertarik dengan organ intim wanita manusia. Namun keyakinanku mendadak sirna ketika dia maju mendekat dan melebarkan kedua pahaku yang pasrah…kini dapat kurasakan kedua bibir vaginaku terkuak lebar lebar…

Ohh…astaga…jeritku dalam hati….kenapa bisa begini ?...kupikir bersenggama dengan Joki akan menjadi yang terakhir bagiku…kini aku telah dihadapkan dengan situasi dimana aku tidak bisa mengelak untuk melakukannya sekali lagi…

Jari tengah kororo mengurut urut belahan memekku…perlahan lahan seiring hisapan Tokang pada putingku yang mengeras….

Sesaat sensasi itu dengan “ insting tubuh wanita 33 tahunku” diresponse dengan cara yang tidak kuinginkan…tubuhku melonjak menikmati sensasi itu…dan tanpa sadar lubang memekku berkontraksi dan mengeluarkan cairan kecil, bersamaan dengan itu sisa sisa mani Joki juga ikut keluar…kini vaginaku telah basah..dan nampak belepotan lendir mani yang menetes….

Kororo tampak sedikit terkejut…namun cairan itu justru memancing insting “keingintahuannya” …dengan cepat kedua ibu jarinya menguakkan lebar lebar memekku…sedangkan jari tengahnya mulai memasuki liang kewanitaanku yang tadinya diobok-obok Joki…

Aku tak dapat melakukan apa apa terkecuali membiarkan Kororo melakukan apa yang da inginkan, satu hal yang kuhindari adalh jika Tokang melihat semua itu, kupeluk dia dalam dalam, entahlah rasa sayangku pada kera kecil ini sedemikian dalam sehingga aku tak ingin dia melihatku dipermalukan seperti itu…

Jari jari Kororo menucek kucek vaginaku…semakin lama bau mani Joki yang tersisa senmakin mencuat….aku merasa sangat dipermalukan…aku, seorang wanita yang telah menikah telah menerima kenyataan liang peranakannya telah kedapatan dimasuki oleh jari jemari sekor orang utan…liang kemaluanku ..oh… ….

Kororo sempat membau baui tangannya sendiri…dan sepertinya bau itu dia kenali dengan baik….

Sekitar 10 menit aku dimasturbasi oleh Kororo si kera itu, namun yang terjadi di luar perkiraanku, Kororo bergerak menjauh dariku dan sesaat kemudia dia pergi keluar kamar…saat dia mendekati pintu, aku begitu girang…dan yang kuharapkan benar benar terjadi…kera itu membuka pintunya dan pergi keluar…sesaat kupikir kera kera berbulu emas ini adalah kera kera cerdas, buktinya Kororo dengan mudah bisa membuka pintu keluar…sementara aku mendorong tubuh Tokang dan membersihkan diriku serta cepat cepat mengenakan pakaianku kembali…

Pengasuh Hewan Bagian 5

Akhirnya aku berhasil membawa semua perhiasan itu kerumah nenek, hari itu hari senin, jadi masih ada 6 hari lagi ke hari sabtu, hari dimana aku bisa pulang tanpa dicurigai, perhiasan perhiaan itu kutaru di kandang kuda, jadi semuanya aman. Namun semuanya tidak berjalan semulus yang kuduga. Joki rupanya sangat horny padaku, dia bahkan sering berusaha menyetubuhi kakiku dan melompat lompati aku. Terpaksa anjing ini kukurung di kandang bekas Tokang. Namun sialnya baru sehari dikurung, nenek membawa lagi 3 orang utan berbulu emas, kali ini orang utan biasa, 2 jantan dan 1 betina,

Selama ke tiga orang utan ini berada di kandang, Joki selalu mengejar ngejar aku, bahkan seringkali pintu luar rumah dikorek koreknya dari luar, setiap ada kesempatan bertemu, moncongnya yang kasar dan bau itu selalu disodok sodokannya ke selangkanganku.

Aku merasa malu sekali…jangan jangan anjing ini sadar saat kurakura tua meminjam tubuhnya untuk melakukan senggama denganku ?!...jangan jangan dia merasa pernah melakukannya dan merasa hal itu bloeh boleh saja…?! Oh…astaga…aku tidak tahu pasti, namun yang jelas tingkah polah Joki yang sekarang telah memberikan gambaran seperti itu, sekarang anjing ini benarbenar bernafsu padaku, setiap kali aku mengusirnya menjauh dia tidak mendengarkanku…sehingga aku jadi malas keluar rumah kecuali terpaksa seperti menyapu halaman dan mandi…

Hari Kamis, pagi itu aku berhasil menyelinap ke kandang kuda nenek untuk mengambil karung perhiasan hadiah sang kura kura..kubawa diam-diam menuruni bukit rumah nenek dan sesampainya aku di pinggir jalan, kusembunyikan kantung perhiasan itu ditempat yang aman (jalan kecil tak beraspal tempat yang selalu dilalui mas Heru saat menjemputku pulang), aku berharap aku bisa mengambilnya nanti sewaktu dijemput mas Heru hari sabtu.

Sesudah melakukannya aku kembali ke rumah nenek, berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan. Sesampainya dihalaman, jantungku berdebar kencang, kuharap …sangat kuharap aku tidak bertemu nenek atau penghuni rumah lainnya..aku tidak mau diinterogasi dan terlihat gugup…

Namun sungguh diluar keinginanku aku bertemu nenek di halaman, rupanya dia sedang menyapu dan memetik buah, aku langsung gugup karenanya, andai aku tidak berkaitan dengan harta perhiasan gaib itu tentu aku tidak segugup ini…”eh, kemana saja kau Ayu ? pagi pagi ini pakaianmu sudah kotor ? “ sapa nenek tersenyum, ah..gawat ! rokku agak kotor terkena tanah saat aku berusaha memanjat bukit tadi…”tadi..ehnnmmm…sa..saya membuang sampah nek..” jawabku tertahan…” nenek mengangguk perlahan….namun matanya yang tajam seolah menusuk kedalam jiwaku…aku benar benar gugup…jangan jangan da tahu tentang perhiasan itu…pikirku…”sepertinya kamu agak sakit?” tanya nenek lagi…”tii…tidak..”jawabku terpojok..aku tidak dapat mengelak lebih lama lagi….sampai….

Guukguukkk…astaga..Joki..! anjing celaka ini dating disaat yang tepat..memecah kesunyian diantara aku dan nenek…”oh..si Joki…sekarang tambah gemuk dia…kamu pintar merawat, Ayu..” puji nenek sambil mengelus elus kepala Joki..dan saat yang tepat untuk beralih saat perhatiannya berubah…”ehmm…nenek bisa aja…sini..biar saya mandikan dulu…” pintaku… nenek hanya tersenyum ramah…aku tahu hanya itu jalan satu satunya untuk menghilang sejenak dari pandangan nenek… …

Kutarik kalung Joki dan kutuntun ke kamar mandi… sesampainya disana, pintu kukunci rapat…perlahan kuhembuskan nafas keteganganku…perhiasan itu sudah aman..dan yang terpenting nenek sepertinya tidak curiga sama sekali…

Aku merasa sangat senang dan tenang sekarang…hanya perkara memandikan Joki, bukan hal yang sulit bagiku…Joki suka mandi di pancuran…jadi kubuka saja kerannya dan kumandikan dia di bawah pancuran. Mungkin karena rasa senang yang menghampiriku, aku merasa mandi bareng anjing ini tidaklah terlalu buruk, toh aku sudah mendapatkan perhiasan itu, dan dengan cuek kutanggalkan seluruh pakaianku…dengan cepat kami berdua telah bertelanjang bulat. Aku berjongkok untuk menyabuni tubuhnya sedangkan Joki sibuk menjilati dadaku, perutku dan tentu saja kewanitaanku…lidah Joki yang keras membuatku kegelian…kupikir tanpa anjing ini aku tidak dapat disembuhkan dan perhiasan dari sang kurakura tak pernah kudapat…kupikir mungkin aku bisa memberinya hadiah kecil sebagai terima kasihku…aku kemudian berdiri…dan membalikan tubuhku..agak menunggingkan pantatku…dan Joki mngerti itu…dijilatinya anusku…bisa kurasakan dengusan nafasnya berpacu dibelahan pantatku…

Semakin lama, permainan ini semakin enak…secara tidak sadar aku meraba raba itilku…rasanya sangat menggelikan…Joki yang melihat itu memajukan moncongnya dan menjilati vaginaku…terang saja bulu moncognya yang kasar serta kumisnya yang runcing menusuk nusuk kulit kemaluanku..Joki tidak sengaja melakukannya namun rasa geli geli itu membuatku tidak bisa menahan nafsuku…ughhh…ohhhh…rasanya enaakk sekali…kubalikan tubuhku dan aku duduk di pinggiran kloset duduk, kubiarkan Joki menjilati bibir vaginaku dengan leluasa…aku mengelus elus kepalanya…aku merasakan kenikmatan yang bahkan belum pernah kurasakan bersama mas Heru…Joki yang sudah tidak tahan mengangkat kedua kakinya kupundakku…kulihat dengan jelas kemaluannya tampak merekah dan merah….kupikir saat ini aku bisa saja mengakhirinya…namun entah kenapa mataku beradu pandang dengan mata Joki…matanya yang hitam bulat terlihat lucu dan bening…mata ini murni tanpa ego…cukup lama aku menatapnya, mata itu seolah berkata “ please…aku ingin merasakannya sekali lagi…”

Aku berada didalam keputusan antara menerimanya atau mendorong Joki…namun keputusanku mungkin akan unik…kugenggam kelamin anjing itu…dan “baiklah, kamu dapat apa yang kamu inginkan..”bisikku dalam hati…

Joki adalah anjing kampung, mainnya paling banter sama betina kampung, namun kali ini kelaminnya mendapatkan memek betina manusia…kutarik kelamin si Joki dan kugesek gesekan ke bibir vaginaku…geli juga rasanya…senmakin lama kurasakan tidak adil baginya…dan kali ini aku benar benar melakukannya..aku memasukan kelamin Joki kedalam liang kewanitaanku !

Ughh…ugh…kudorong-dorongkan pantat Joki sehingga alat kelaminnya semakin tenggelam dalam vaginaku..andai dia bisa bicara aku ingin tahu apa komentarnya tentang liang kewanitaanku….paha Joki benar benar mengeras..begitu juga kelaminnya, aku bisa merasakannya sampai bergetar-getar menahan nafsunya…aku memeluk Joki erat…kuelus elus bulunya yang pendek…bulunya yang hitam legam terlihat bersih karena sering dimandikan…Joki menjadi pejantan yang sehat.

Beberapa menit kemudian sodokan Joki melambat..bahkan berhenti…kurasakan semburan spermanya muncrat begitu hebat didalam liangku…kelamin Joki berdenyut denyut hebat…sesaat kami masih berpelukan….dan tak lupa aku berbisik “terima kasih…”

Perlahan lahan Tubuh Joki kudorong menjauh, Penisnya yang masih terbenam di kemaluanku perlahan keluar…masih basah dan merekah…Kelamin itu tampak berdenyut hebat…sepertinya dia menikmati stiap detik persetubuhan kami…

Setelah Joki berdiri dengan keempat kakinya, akupun bangkit….mani cair si joki menetes keluar dari liang kewanitaanku…perlahan moncong Joki yang kasar didekatkan ke memekku…mengndus endus dia, and lalu mejilati maninya sendiri…perasaanku sendiri setelah bersenggama dengan Joki terasa melunak dengan anjing itu, kubiarkan dia menjilati bersih bibir vaginaku.

Setelah puas dengan itu, aku mengambil centong dan mengguyur badanku dengan air hingga bersih…segarnya….. !

Pengasuh Hewan Bagian 4

Tiga hari sejak kubiarkan bunga itu memasukan kepala putiknya kedalam liang kewanitaanku aku menginginkannya lagi, Tokang dan Joki yang sering iseng juga menambah kuat keinginanku untuk melakukannya, tanpa mas Heru sebagai pejantan, hanya bunga itu yang memenuhi syaratku. Akupun melakukannya sekali lagi.

Tak terasa hari sabtu telah tiba, akupun sampai dirumah dan berkumpul bersama keluargaku…singkat cerita aku merasakan kembali kehidupan normal, malamnya mendapatkan jatah dari mas Herupun tiba, setelah melakukannya aku merasa hal itu biasa saja, mas Heru type pria konvensional, hanya kucek kucek kucek sebentar, trus selesai, senggama menjadi suatu kewajiban belaka.

Hari senin, aku kembali ke rumah nenek, dan entah kenapa hari itu rasa gatal kembali menyergapku, keinginan untuk mengurut urut sesuatu di sela kemaluanku yang gatal terasa sangat .aku ingat siklus cairan bunga itu, dua hari setelah bersenggama maka aku akan merasa tanpa gairah, namun dihari ketiga akan membuatku ketagihan. Pantas saja aku dan mas Heru merasa biasa-biasa saja dalam dua hari ini, pikirku.

Siangnya seperti biasa keinginanku tidak tertahankan, aku mengajak Tokang untuk pergi ke pemandian, segera setibanya disana, Tokang seperti biasa hendak kuikat terlebih dahulu, namun kali ini dia lebih cekatan daridugaanku, semakin lama orang utan kecil ini semakin cerdas dan gesit. Dia melompat dan masuk ke sebuah gua kecil, akupun berlari mengejarnya, ketika aku masuk ke dalam ternyata aku telah menembus ke suatu tempat lain yang belum pernah kulihat, disana ada banyak bunga dan jamur yang besar, ada juga kelinci yang besar (sebesar anjing pudel), pohon pohon pinus..dan kupu-kupu, seperti di negeri dongeng. Aku mengejar Tokang dia memanjat sebuah batu dan diatasnya duduk seekor kurakura yang sudah tampak tua. Aku mendekat untuk menangkap Tokang , namun tiba tiba dikejutkan oleh suara sang kura-kura jantan “jangan menangkapnya, dia tidak bermaksud merepotkanmu, tempat ini adalah tempat bermain bagi siapa saja…Tokang adalah teman kami, dan aku adalah kura kura tua temannya.” Aku terkejut dan gelagapan, namun postur dan perawakan si kura-kura (tingginya mungkin sekitar dadaku) membuat aku tidak takut-takut amat. “si…siapa kamu?” tanyaku…”aku adalah penguasa kolam tempatmu mandi…” jawabnya tegas…”uhh,…maaf, tapi aku tidak tahu jika kolam itu ada penunggunya, bisakah aku meminta maaf ?” jawabku agak terpojok, “ karena kamu telah menggunakan kolam kami dengan tanpa izin, maka kami meminta suatu kesepakatan” aku bertanya kesepakatan apa yang diminta” aku menyukai payudara wanita, jika kamu mau membiarkan aku menyusu, aku akan memberikanmu perhiasan sebagai imbalannya” akupun menyetujuinya.

Hari itu aku membiarkan kura kura tua itu menikmati payudaraku, dia menghisap dan meremas remasnya dengan penuh rasa kenikmatan…”aku sudah lama ga bermain beginian…”katanya senang, walaupun begitu kura kura ajaib ini menepati janjinya padaku, dia memberikan segenggam perhiasan. Karena senang dengan pemberian kurakura itu, keesokannya aku pergi kesana lagi…kura kura tampak senang dengan kehadiranku, dan singkat cerita dia puas dengan payudaraku yang montok dan legit…sampai suatu saat aku mulai merasakan rasa gatal lagi di vaginaku…kucoba untuk menahannya namun tidak bisa…akhirnya kucoba untuk menggaruknya secara sembunyi sembunyi, namun rupanya kura kura ini curiga dan bertanya, akupun menjelaskan dengan malu-malu bahwa vaginaku terasa gatal dan mulai berair. Kura kura mengatakan” itu akibat kamu memasukan kepala putik bunga besar kedalam liang kemaluanmu…sekarang coba kulihat, aku bisa mengobatinya” dengan ragu-ragu kusibakkan kainku dan kupelorotkan celana dalamku, bulu kemaluan yang lebat menghiasi auratku…”coba duduk dan mengangkang katanya “ aku dengan ragu-ragu mengikuti perintahnya..dibukanya bibir vaginaku, namun kupasrahkan saja, mungkin saja dia bisa menyembuhkannya…

Setelah memeriksanya sejenak kurakura itu berkata” hmmm, dahulu, majikanmu juga melakukan hal yang sama…ketahuilah sebuah rahasia , Tokang bukanlah orang utan biasa, tidak lihatkah engkau bahwa dia berbulu emas? Dia adalah yang terakhir dari generasinya, akulah yang memberikan kepada majikanmu dulu…orang utan emas dapat menarik segala kekayaan bagi yang memeliharanya…namun syaratnya dia harus diberikan air susu wanita, sedangkan wanita yang menysuinya akan tersedot nasib baiknya dan rezekinya” pungkas si kura kura “hah , jadi selama ini aku telah dipermainkan oleh nenek itu ?” tanyaku…”ya, apakah kamu tidak berpikir, jika pekerjaannya mudah dan bayarannya bagus kenapa pengasuh Tokang yang terdahulu bisa mundur ?, itu karena mereka telah kehilangan rezekinya dan setelah itu majikannya akan menendangnya….”jawab sang kura kura

“lalu bagaimana cara mengatasinya, aku mohon bantulah aku..”pintaku..”hmmm sulit…tapi jika kau tidak mau hidup menderita sepanjang hidupmu, kamu harus membawakan seekor anjing jantan kemari…hanya itu yang bisa membantumu “sahut sang kura-kura.

Keesokan harinya aku membawa Joki ketempat itu, dan disana sang kurakura telah mengunggu. “ ini adalah anjing jantan yang anda minta, mudah-mudahan cocock” kataku…”yap, ini cocok, tapi sebelumnya aku jelaskan semuanya, yang bisa membersihkanmu hanyalah spermaku, disamping itu dengan adanya sperma itu kamu akan mendapatkan rezeki yang melimpah dan perhiasan yang banyak dariku…namun karena aku sudah tua, dan tidak bisa bersetubuh lagi maka aku akan menggunakan tubuh anjing ini sebagai perantaranya….bagaimana ?” pernyataan sang kurakura membuatku linglung..namun jika hanya ini jalan satu-satunya maka akupun menyanggupinya…aku mengangguk setuju...apa boleh buat…

Kura kura mengajakku masuk ke gua didekat sana untuk melakukan ritual tersebut. Aku diminta melepaskan pakaianku dan tidur diatas sebuah batu besar dalam keadaan telanjang bulat. Sementara itu Joki rupanya sudah tidak sabaran, kupikir tanpa pergantian rohpun dia tetap berhasart padaku…sang kura kurapun duduk bersila, lalu tubuhnya ambruk ketanah pertanda rohnya sudah masuk ketubuh Joki. Joki yang sekarang tiba-tiba terdiam, lalu dia bisa bicara “ wah…sepertinya anjing ini cabul sekali…dia tidak tahan melihat kemolekan tubuhmu dan dari dulu berhasrat menjalin senggama denganmu…hal ini akan memudahkanku” ooohhh…tidak…pikirku…aku pasrah saja, aku hanya ingin sembuh, dan walaupun syaratnya cukup sulit, namun aku menjalaninya dengan pasrah.

Kepala joki yang kasar dan hitam mendekati kemaluanku…aku terlentang tanpa busana diatas batu besar itu…perlahan lahan dia mengendus-endus…kurasakan semburan nafasnya disela-sela selangkanganku….

“aku akan menjilati itilmu dahulu, supaya kemaluanmu lebih berair” sahut Joki, akupun mengangguk, kukangkangkan kedua pahaku sehingga lidah Joki yang kasar bisa menjilati itilku, lidahnya keras dan kasar, dengan cepat aku mengalami rangsangan, rupanya sang kurakura tua sangat mahir merangsang wanita. “ah kau sudah mulai terangsang rupanya, sepertinya ini saatnya” Joki melompat keatas, aku merasa sangat tegang, namun tak ada yang bisa kulakukan,tubuh molekku dijilatinya semua, payudaraku yang padat dan kencang juga, akhirnya alat kelamin kami berdua saling bergesekan semakin lama itilku semakin geli karenanya..” cepat masukakan sebelum aku keluar “ seru sang kura kura..aku segera menggenggam kontol si Joki dan memasukannnya kedalam liang wanitaku perlahan tapi pasti kami berdua berusaha memasukannya perlahan demi perlahan, dan sekarang semuanya amblas hingga buhul anjing itu juga. Tak pernah kusangka aku akan bersetubuh dengan seekor anjing kampung…Posisiku terkunci dibawah, terlentang dan mengangkang, sedangkan Joki menindihku dari atas. Pantatku bergoyang goyang karena sodokannya, tak kusangka aku bisa bersetubuh dengan anjing kampung ini. Kontolnya yang besar, sesak didalam liang vaginaku.

Sang penunggu didalam tubuh Joki terus memacu kontolnya, sedangkan aku mulai merasakan iramanya, ikut menggoyang goyangkan pinggulku. Lama kelamaan sodokannya makin keras dan cepat….Akhirnya aku orgasme juga, bersamaan dengan Joki yang menyemprotkan spermanya kedalam liangku…ughh..ugh…Joki menggeram hebat…croottt..croottt banyak sekali sperma yang ditumpahkannya ke liangku…sepertinya dia benar benar puas sekali…tubuh anjing Joki agak lama tidak melakukan perkawinan, dan kali ini nafsunya dikeluarkan didalam kemaluanku, seorang wanita molek yang sudah menikah…

Aku terlunglai kelelahan, Joki juga, aku kemudian terlelap dan ketika terbangun di sekitarku terdapat banyak sekali kalung emas dan permata, aku segera mengumpulkannya dan membawanya pulang, aku berusaha melupakan kejadian persetubuhanku dengan Joki, dan lebih memikirkan cara membawa pulang semua perhiasan itu….

Pengasuh Hewan Bagian 3

Kisahku dengan Joki dan Tokang belum selesai sampai disitu, suatu hari air susuku berkurang dan kadang kadang macet sama sekali, akupun mengadukannya kepada nenek tentang hal ini, “ hmm, kasiat serbuk sari itu sudah habis, sepertinya kamu harus mecarinya lagi, kalau yang dekat sini ada beberapa buah yaitu didekat permandian yang kutunjukan waktu ini, sedangkan kalau sudah habis berarti kamu harus mencarinya disungai Kimo di barat sana” kata nenek. Jadi kuputuskan untuk mencari di pemandian dekat sini saja…aku kesana siang hari, pemandian didindingi tembok, dan memakai pintu seng , pemandangan alamnya sungguh luar biasa, suasananya juga adem khas hutan tropis…

Aku melihat 3 bunga besar disana, 2 sudah masak dan 1 lagi masih kecil, kudekati bunga yang besar. Sementara Tokang kuikat didekat pohon yang agak besar disana. Setelah aman, aku tidak tahan untuk membuka bajuku, menikmati jernihnya air pemandian itu…bunga besar tumbuh langsung ditanah, layaknya bunga bangkai…hanya saja kepala putiknya tampak menonjol keatas…setelah puas mandi, akupun mendekati bunga itu, kupikir jika kupotong kepala putiknya mungkin dia akan mati seperti bunga terdahulu, dan jika semua bunga disini mati, akupun akan repot mencarinya di sungai Kimo yang agak jauh.

Jadi kuputuskan untuk “melakukannya” disini saja, kupilih bunga yang paling tersembunyi tempatnya, disini, bahkan Tokangpun tidak bisa melihatku karena terhalang sebuah batu besar. Akupun mulai bersiap-siap, setelah mengeringkan badanku dan menggunakan dasterku, akupun mengangkang diatas bunga itu. Ragu-ragu juga aku mulai perlahan mendekatkan kelaminku dengan kepala kelamin sang bunga.

Dan saat kepala putiknya bersentuhan dengan liangku..kurasakan ada sensasi getaran darinya…akhirnya kuberanikan untuk mendorong pantatku kebawah..dan blesss…kepala putik seukuran 15 cm amblass amsuk ke liang kewanitaanku , kuberanikan juga duduk di kelopak bunga itu (bunganya keras seperti kayu, sehingga bisa menopang tubuhku) kakiku mengangkang sempurna, kedua pahaku ditopang oleh kelopaknya yang kuat sedangkan vaginaku mengurut urut kepala putiknya yang keras dan bertekstur kasar….

Aku mulai merasakan keenakan, tiba tiba kurasakan kepala ptik itu bergerak gerak, keatas-kebawah dan kadang bergetar-getar…rasanya memang enak…ughhh..kepala putik itu juga semakin membesar..namun tidak masalah karena vaginaku bisa menyesuaikan diri…aku duduk dalam posisi statis..sendangkan kepala putik sibuk berkelojotan menusuk nususk vaginaku…teksturnya yang kasar dan berbintil bintil menambah kegelian yang kurasakan…ughhh…ahhh…aku benar benar merasakan kegelian sekaligus kenikmatan yang sangat di vaginaku…tak kusadari tanganku mulai menysup dan mulai memainkan itilku…emakin lama semakin cepat…dan ughhhh…orgasme pertamaku…kurasakan beguitu hebat…bahkan dengan mas Heru aku tidak pernah merasakannya…kurasakan liang kemaluanku mulai basah dan licin…dan cairan itu –entah bagaimana- merangsang si kepala putik untuk semain keras menodok…sepertinya kepala putik itu mulai terangsang oleh cairan vaginaku..dan sodokannya sangat keras dan liar…”astaga..stop stop…pelan-pelan..”rintihku…tapi kepla putik itu tetap melakukannya.

Selama 20 menit aku merasakan kenikmatan bersenggama dengan supucuk bunga??, astaga…tapi itulah faktanya.

Sang kepala putik menyemprotkan cairannya dengan keras, kali ini lebih banyak dan lebih keras dibandingkan yang dulu…dan uniknya kelopak bunganya berubah warna lebih merah dan cerah…astaga…dia menikmatinya..pikirku dalam hati…tanganku mengelus-elus kelopak bunga itu, pertanda akupun menikmatinya…ini hanya sebuah permainnan pikirku..bukan perselingkuhan..pikiranku waktu itu berusaha untuk membenar-benarkan tindakanku..dan memang benar, toh ini seperti memasukan mentimun kedalam vaginaku, suamiku pernah mencobanya, jadi anggap saja seperti itu toh ?!…

Kejadianku bersenggama dengan sang kepala putik sedikit banyak telah merubahku, kini aku tidak malu-malu lagi dengan Tokang dan Joki, walaupun aku tetap menjaga agar tidak bersetubuh dengan mereka. Tokang sekarang sudah resmi berbagi kamar denganku. Sekarang setiap kali aku berganti baju dan mandi aku mengajaknya, monyet kecil ini seringkali meraba kemaluanku…hal itu bukan barang aneh lagi baginya, walaupun kadang aku melarangnya tapi disaat saat suntuk kubiarkan saja dia bereksperimen, diapun sudah mulai mahir memelorotkan celana dalamku…kadang kadang aku tertawa dibuatnya. Joki lain lagi, anjing itu kadang cuek padaku, namun disaat kegatalan akibat cairan bunga beraksi, hidungnya yang tajam membuatnya membaui aroma vaginaku yang terangsang. Berbeda dengan Tokang yang masih kecil (belum puber) Joki sudah cukup usia, sepertinya dia tahu bagaimana cara menggauli betina termasuk aku. Itulah sebabnya aku lebih membatasinya, hanya jika aku memandikannya saja dia bisa melihatku telanjang bulat, kadang juga jika aku merasa “gatal” kubiarkan anjing ini menjilat-jilati anusku..rasanya geli banget. Namun biasanya aku tidak tahan, dan membiarkannya menjilati kemaluanku juga. Kadang dia berusaha melompatiku, sepertinya dia ingin menyetubuhiku, namun tentunya tidak kubiarkan.

Pengasuh Hewan Bagian 2

Hari senin tiba tanpa terasa, akupun pergi kerumah nenek, dan akupun disambut oleh Tokang dengan ceria, rupanya dia sangat merindukanku. Selama dua hari ini tidak kurasakan apa apa yang berubah dari diriku. Kecuali susuku bertambah agak besar, dan memang benar susuku bisa mengeluarkan air sekarang. Tokang amat girang dengan “mainan” barunya, untung dirumah selalu sepi, karena nenek dan kedua anaknya pergi mengurus pabrik mereka.

Orang utan kecil itu menetek kepadaku di sepanjang siang…rasanya geli juga teteku dikulum kulumnya…ada perbedaan antara menyusui saat hamil dan tidak hamil.dan sepanjang hari itu tampak biasa biasa saja, dan haripun berlalu dengan cepat.

Seusai mandi aku terbiasa membawa Tokang ke kandangnya, namun kali ini dia menjerit jerit, sepertinya dia ingin bersamaku seharian. Nenek memintaku mengajaknya..”tak apa, ajaklah dia, Tokang tak akan mengganggu, dulu dengan pengasuhnya juga dia tidur disana..”katanya, akupun mengajaknya tidur dikamarku, ada dua bed disana, sebenarnya aku memang ingin mengajaknya tidur disini, lumayan ada teman, pikirku…

Dimalam harinya tiba tiba aku merasakan gatal gatal di bagian paha atasku, aku mengelus-elusnya untuk mengusir gatalku, namun kemudian vaginaku juga terasa agak gatal…dan bahkan liangnya juga terasa seperti agak gatel. Aku mulai meraba dan menggesek celana dalamku…berharap bisa menghilangkan gatalnya. Aku mulai tidak tahan…tanganku mulai menggesek gesek celana dalamku lebih keras…lebih cepat. Dan akupun mengalah…tiba tiba karena liang kemaluanku gatal, ingin sekali aku menggaruknya kedalam…kubuka celana dalamku…dan mulai memasukan jari jariku kedalamnya.

Aku mulai panik…namun keenakan juga…aku tebangun dan hendak mencuci vaginaku di kamar mandi. Tapi tiba tiba mataku tertuju pada kotak kecil tempat menyimpan “kepala putik”. Iseng aku membuka kotak itu, dan ternyata kepala putik itu masih disitu, walaupun ukurannya telah menysut, namun jangkauannya masih lebih panjang dari jari jariku”ini alat bantu yang berguna” pikirku…

Kepala putik kumasuan kedalam vaginaku yang berbulu. Perlahan lahan kukorek korekkan kepala putik itu kedalamnya. Semakin lama semakin nikmaaatt…uhhh..rasanya sangat enak…dan aku pikir bahkan aku belum pernah menikmati yang seperti ini sebelumnya. Tiba tiba aku merasaakan birahi yang besar, keringatku bercucuran dan korekan kepala putik itu semakin kupercepat, liang vaginaku sekarang telah basah, dan sesaat kemudian…sreettt sreettt ceeerrrrr..ughhh…aku mengalami ledakan orgasme yang luar biasa…liang vaginaku sepertinya berdenyut hebat…aku masih bisa merasakan kepal putik itu tertancap di liang kemaluanku turut bergetar settiap kali vaginaku berdenyut…”ughhh …nikmat sekali…”pikirku

Kedua mataku kututup dengan bantal…rasa orgasme masih menyelimuti diriku..”apa yang terjadi ?” tanyaku dalam hati…” mungkin cairan kepala putik itu menyebabkan kegatalan pada vaginaku, itu sebabnya para peternak disini menggunakannya untuk membuat sapi betina mereka lebih birahi.

Sesaat berlalu, kedua tanganku masih mendekat bantal yang menutup mataku. Tiba –tiba oh..sungguh diluar dugaanku ada tangan yang meraba bibir kemaluanku yang merekah akibat tertancap kepala putik tadi. Dengan sigap aku terbangun, dan hampir saja aku berteriak…rupanya Tokang telah terbangun, dan aku tidak tahu apakah dia melihat pengasuhnya bermasturbasi, namun kali ini dia telah meraba-raba vaginaku…sesaat kemudian kepala putik itupun terjatuh…pluk…dan tampak jelas lubang vaginaku berdenyut dan basah…Tokang semakin tertarik dengan itu…tangannya meraba raba dinding vaginaku yang basah. Aku sanagt terkejut dan gugup, astaga…baru pertama kali ada yang meraba vaginaku selain suamiku mas Heru…aku tidak bisa berbuat banyak….Tokang sepertinya terheran heran dengan alat kelamin betina dewasa, tiba tiba dia membauinya..membaui vaginaku..sniff..sniff…dan mulai menjilati tangannya sendiri yang berlumuran cairan vaginaku…dan buruknya Tokang menyukai rasanya…dia mulai menempelkan mulutnya ke vaginaku…oh..astaga…apa yang dilakukannya…tapi semua itu sirna…kupikir lebih baik untuk menikmati saja semuanya..kubiarkan Tokang menjilati vaginaku…dan bahkan dia menyedotnya dalam dalam….kepalanya sibuk beroperasi di selangkanganku sementara kukangkangkan kedua pahaku lebar lebar…dan ughhh…crooottt..serrrr….kurasakan orgasme kedua yang lebih hebat lagi….Tokang semakin menikmatinya…mungkin dia pikir ini sama dengan air susu payudara..he he mungkin juga dia berpikir begitu, Tokang masih kecil untuk mengenal sex, walaupun akupun tidak bisa memastikan dia tidak memiliki keinginan bersetubuh denganku…setelah cairannya habis Tokang pindah dan tertidur…syukurlah dia tidak ingin macam macam pikirku…dan karena lelah akupun juga tertidur …terlentang dan telanjang….

Siangnya aku terbangun, suasana sudah sepi…akupun makan, setelah mengurus Tokang, akupun memasukannya ke kandangnya. Kali ini aku akan membersihkan kandang kuda milik nenek. Kuda disana ada tiga ekor semuanya betina, akupun membersihkannya dan menyemprotkan air dan bersih bersih, setelah memberi makan kuda akupun ingin segera mandi…namun sepertinya gatal gatal itu mulai terasa lagi…selama mengurus kuda aku mulai merasakannya lagi, hal ini membuatku merasa sedikit tersiksa…pada sudut sebuah meja aku mulai menggesek gesekan kemaluanku…namun rasanya malah semakin terasa…akupun kehilangan akal sehat…rasa gatal itu telah menguasaiku…aku mulai belingsatan untuk mencari “benda yang enak” untuk pelampiasanku…akhirnya sebatang kayu silinder tebal 5 cm melintang memberikan aku sebuah ide…kayu bulat itu melintang horisontal dan tersambung pada dua buah tiang kayu. Akupun melepas celana dalamku…rasanya tidak akan ada yang melihat, aku tidak tahan…aku mengangkang dan tepat dibawah vaginaku, kayu horisontal itu… kugesek gesekan vaginaku…dan mulai basah…sambil mengawasi kuda kuda itu makan akupun menikmati sex nikmatku sendiri…

Dan kali ini vaginaku memang basah…saat itu, Joki anjing nenek masuk ke kandang, Joki memang anjing kampung, gunanya menjaga rumah ketika sepi. Dia terbengong melihatku duduk diatas sebatang kayu…perlahan didekatinya aku..dan mengendus endus. Joki tidak terlalu besar hanya sepaha bawah ku, tubuhnya biasa saja. Mula-mula dia mulai curiga dengan bau yang dia cium…dia mulai agak tegang dan seperti kebingungan…tapi perlahan dia mulai mendekat…dan akupun mulai curiga kalau-kalau anjing kampung ini membaui cairan vaginaku yang mulai menetes…”huss ..huss kataku mulai mengusirnya…namun Joki semakin mendekat..dan Happ!! Anjing kampung itu nekad memasukan moncongnya ke balik daster pendekku…ughh…akupun mundur secara refleks namun tubuhku terhalang tiang kayu dibelakangku…aku tidak bisa berkelit…kakiku mengangkang sempurna dan vaginaku tanpa penutup apapun…aku tidak mengerti mengapa Joki doyan menjilati vagian wanita ? ughhh…aku tidak bisa berbuat apa-apa…sapuan lidah kasar Joki membelah vaginaku yang telah basah oleh cairan…aku tidak bisa berbuat apa-apa…jujur saja aku agak takut dengan ajing itu..jadi kiubiarkan saja dia menjilati kemaluanku..segera setelah mendapatkan jeda, aku melompat dan pergi kedalam rumah…

Sesampainya disana, nenek dan kedua anaknya telah sampai, Joki masih saja berusaha menjilat-jilati kelaminku…dan untuk menghindari ketahuan oleh penghuni runah,(apalagi aku tidak pakai cd ) aku segera menyelinap ke dapur… kuberikan Joki sepotong kue dan perhatiannya sejenak beralih. Tiba-tiba nenek masuk kedapur, kami berbasa-basi sebentar dan setelah mengecek semua pekerjaan rumah beres dia berkata “ kalo semua sudah beres kamu boleh mandi…oya, si Joki ini sepertinya agak kotor mandikanlah dia..” aku mengangguk, “keenakan deh anjing ini..”pikirku

Aku menarik Joki segera ke kamar mandi pembantu, (kamar mandiku berbeda dengan kamar mandi utama), setelah mengunci pintu, akupun hanya tinggal berdua didalam dengannya…kali ini benar-benar tidak ada yang bisa memisahkan aku dari anjing kampung ini…hanya daster pendek dan tipis ini yang memisahkan tubuhku darinya. …aku segera mengambil selang dan memandikannya, setelah dia basah, aku segera menyabuni anjing itu dengan sabun, sesaat ketika aku agak berjongkok vaginaku terlihat oleh Joki, hal ini memberikannya ide sekali lagi untuk menjilatinya..

Aku mulai terbiasa dengan itu, kubuka baju dan braku…dengan telanjang bulat kami mulai madi bersama…aku berdiri di pancuran dan mulai merasa nyaman…kubiarkan Joki menjilati belahan pantatku…kutunggingkan sedikit sehingga dia bisa menjilati anusku…akupun tertawa geli…tidak apa pa toh..pikiranku mulai berusaha membenarkan tindakanku ini…toh aku tidak bersetubuh dengan anjing ini pikirku…anjing ini cukup berguna juga, aku mulai merasakan keenakan…

Pengasuh Hewan Bagian 1

Cerita kali ini memang sedikit ajaib, berawal dari saat dulu saat aku beserta mas Heru suamiku merantau ke Kalimantan. Kami tinggal 2 tahun lamanya disana. Oya, namaku Ayu, saat itu sudah dikaruniai 2 orang anak yang masih kecil kecil. Banyak orang bilang wajahku mirip artis seksi Emma Warokah, aku asli Sunda,sedang suamiku dari Solo.

Kisah ini berarti telah lewat 12 tahun dari kejadian itu. Kini aku sudah sangat mapan dan menjadi pengusaha eksportir kain dan kerajian tangan. Tapi walaupun begitu, ada keinginan yang mengusikku untuk menceritakan kisah unik yang pernah kualami ini kepada kalian.

Tahun 1996, kami adalah keluaraga menengah yang mengikuti jatah transmigrasi pemerintah ke Kalimantan. Aku berusia 32 tahun waktu itu. Saat berangkat menuju kesana banyak harapan yang menggantung dipundakku dan mas Heru untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Namun apa lacur. 2 tahun berlalu tetapi ternyata mas Heru tidak berbakat berladang. Beberapa hektar ladang yang diberikan pemerintah ternyata tidak sanggup dia kelola. Sebenarnya akupun tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya. Beberapa dari tetangga kami memilih pulang ke Jawa daripada bertahan disana. Hanya tersisa 10 KK saat itu di sekitar rumah kami.

Saat itu kami sebenarnya sudah hendak pulang ke Jawa. Memasrahkan diri, sampai suatu ketika suatu tawaran dating ke rumah kami. Mas Herulah yang membawanya, dia bercerita padaku bahwa di desa seberang, tidak jauh dari rumah kami ada penawaran pengasuh hewan orang utan dengan gaji yang lumayan.

Singkat cerita kami menuju ke rumah sang panawar. Rumahnya besar seperti villa ditengah hutan. Pemiliknya seorang nenek-nenek usianya kira kira 60 tahunan, dia tinggal bersama dua orang anak perempuannya yang tidak menikah. Dua orang anak lakinya diceritakan tinggal merantau. Dia memiliki industri kain tenun namun letaknya terpisah dari rumahnya. Jadi kehadiranku disitu diharapkan dapat membantunya membersihkan rumah dan kandang serta merawat seekor orang utan jinak dan berbulu kuning emas yang bernama Tokang. Uangngya lumayang besar, disamping itu rumahnya tidak terlalu jauh dan besar serta nyaman. Aku diminta tinggal selama seminggu, jadi hanya setiap hari sabtu dan minggu aku bisa pulang kerumah.

Mulanya aku ragu, namun tawaran sang saudagar sangat sulit untuk ditolak, disamping itu kami butuh modal untuk memulai hidup lagi di Jawa. Akhirnya aku terima tawarannya.

Singkat cerita, aku mulai tinggal dirumah nenek, dan diperkenalkan dengan Tokang, orang utan asuhanku. Nenek menjelaskan segala cara mengasuhnya. Hari pertama kedua dan ketiga terasa menyenangkan karena Tokang sangat lucu dan tidak menyusahkan. Dihari keempat Tokang mulai rewel dan tidak mau makan. Sang nenek pun menegurkudan berkata “ Ayu, Tokang sangat suka air susu wanita, tidakkah kamu bisa memberinya ? pengasuhnya yang dulu memberinya setiap hari jadi karena itu aku mencari pengasuh wanita yang sudah menikah”. “hmm air susuku tentunya tidak keluar nek, kataku, karena sudah lama sejak aku melahirkan.

Nenek mendekatiku dan berkata pelan, “hmm..tidak apa, disini, kami punya cara untuk memancing air susu supaya keluar tanpa hamil…, maukah kamu? Nanti nenek kasih bonus “katanya.. akupun mengiyakannya.

Dihutan dekat sini ada bunga besar yang serbuk sarinya biasanya digunakan untuk memperbanyak air susu ternak. Nenek dan aku mencari bunga itu disekitar pemandian dekat sungai. Setelah kami menemukannya, nenek berkata “ Ayu, ini yang disubut bunga besar, besarnya seukuran bunga bangkai, dan lihat kepala putiknya, dari situ keluar getah cairan “serbuk sari” namun cairan itu juga bermanfaat untuk membuat ternak-ternak betina kami birahi dan memproduksi susu lebih banyak, walaupun dia sedang tidak hamil, “caranya bagaimana nek ?” tanyaku sambil menatap keherannan bunga itu.

Kamu lihat kepala putik itu ? katanya..kepala putik bunga itu sebesar dua jari manusia, bentuknya kasar dan keras mirip buah Paya. “caranya sekarang adalah membuat tubuhmu terangsang untuk mengeluarkan air susu, cairan bunga ini bisa merangsangnya keluar. Tetapi untuk melakukannya harus dimasukan kedalam liang kemaluanmu…hal ini sering dilakukan penduduk disini, untuk menolong keluarnya air susu ibu yang baru melahirkan, namun hal ini hanya boleh dilakukan kepada wanita yang sudah menikah, karena…kau sudah tentu tahu maksudku bukan?” katanya sambil tersenyum’ “itulah sebabnya aku mencari pengasuh Tokang yang sudah menikah Ayu, kamu boleh menolaknya jika kamu keberatan” pungkasnya…

Namun bagiku, hal seperti ini bukanlah suatu hal yang patut dibesar besarkan, nenek benar, aku telah menikah dan punya 2 orang anak, bagiku hubungan intim sudah bukan hal asing lagi, alat kelaminku sudah terbiasa , selain juga karena mas Heru selalu gemas melihat kemontokan dan kesintalan tubuhku. Memasukan benda kedalam liang vaginaku tentu merupakan hal aneh pertama yang kulakukan namun karena nenek menjanjikan memberikan modal usaha bagi suamiku, akupun bersedia.

Malamnya seteah mandi, aku membuka bungkusan “alat kelamin” bunga yang telah terpotong itu, nenek telah memotongnya dan membungkus rapat kepala putik itu. Sesaat kupandangi kepala putik itu, sepintas memang mirip alat kelaminmanusia, ah tidak…mirip terong, warnanya ungu kehijauan, bergurat dan bentol bentol, ukurannya sebesar satu setengah jari manusia, panjangnya kira kira 15 cm. agaknya ukurannya mengkerut, mungkin karena dipotong, nenek juga berpesan agar kepala putiknya cepat cepat “dipakai” agar tidak layu. Tanpa ragu lagi kuangkat rokkudan melepas celana dalamku. Dengan perlahan kumasukan kepala putik itu ke liang vaginaku, perlahan lahan namun pasti seluruh kepala putik telah masuk kedalam. Sementara itu aku masih berdiri mengangkang dengan sebuah benda terjepit di dalam liang kemaluanku. Lama kelamaan timbul keisengan untuk menggesekgesekannya..sekali, dua kali..kupikir itu cukup menyenangkan untuk mengusir sepi…beberapa menit kemudian benda itu agak membengkak dan mengeluarkan cairannya tepat didalam liang kemaluanku, croootttt…semburannya ternyata cukup banyak…sampai sampai menetes keluar dan membasahi kedua paha putihku yang mulus. Nenek berpesan agar tidak mencucinya, jadi aku biarkan saja begitu dan pergi tidur.

Besoknya aku mendapatkan jatah pulang kerumah, sesampainya disana aku mendapati mas Heru sedang bersiap siap pergi ke Balikpapan untuk mengurus order pembelian pupuk, syukurlah dia mendapatkn rezeki baru, aku tidak khawatir dengan mas Heru karena dia lelaki baik baik. Selama 2 hari dia akan menempuh perjalanan jadi hari sabtu dan minggu aku dirumah mengasuh anak sedangkan hari senin kami harap urusan mas Heru sudah selesai dan dia bisa mengantikan aku tinggal dirumah selama aku bekerja di rumah nenek.

Haripun berlalu, cukup lama juga rasanya, aku pikir aku akan bisa kumpul dengan mas Heru hari itu, setelah kesepian selama beberapa hari, akupun sendirian dirumah, dan selama beberapa hari kedepan akan tetap sendiri.

Bersambung

Jumat, 21 November 2008

Beruk Kakeku

Copyright 2007, by Roslan BH and Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Monyet, Berbagi Istri)

Kisah ini memaparkan tentang keinginan seks yang sangat unik dari isteriku. Ita memang mempunyai keinginan atau daya seks yang ‘advance’.

Peristiwa ini kutuliskan berdasarkan kisah yang terjadi saat aku dan Ita pulang liburan di kampung. Kampungku terletak di kota T, lebih kurang 45 kilometer jauhnya dari Kuala Lumpur. Setelah sampai, kami berdua berjalan-jalan melawat ke rumah Kakekku yang bernama Ali.

Sesampainya di situ, Pak Ali sedang memberi makan beruknya yang bernama Jantan. Setelah ngobrol-ngobrol, aku diminta Kakek untuk menjaga si Jantan karena esoknya Kakekku hendak mengantar anaknya ke Kuala Lumpur. Aku dan Ita setuju saja.

Sebelum pulang, aku pergi menengok si Jantan, beruk Kakekku itu. Beruk itu kelihatan garang dan bengis saat aku mendekatinya. Anehnya, beruk itu kelihatan manja bila Ita yang mendekatinya.

“Beruk itu baik kok. Kau jangan lupa beri dia makan ya!” jerit Kakek dari atas rumah.

Aku mengganguk saja tanda setuju.

Ita memberanikan diri memegang tangan si Jantan. Beruk itu menjerit-jerit saat Ita mengulurkan tangannya. Tangan Ita ditarik dengan kuat oleh beruk itu. Ita pun tertarik ke dekat beruk itu.

Aku terkejut. Beruk Kakek terdiam, mungkin terkejut. Tangan isteriku betul-betul terjatuh mengenai bagian pribadi beruk itu. Ita cepat-cepat mengalihkan tangannya dari menyentuh batang beruk itu.Setelah itu kami berdua pun balik ke rumah kami. Ita hanya tersenyum setelah kejadian itu.

Keesokan harinya kira-kira pukul sepuluh aku dan Ita membawa nasi dan air untuk diberikan kepada beruk Kakek. Pagi itu Ita memakai kain batik dan t-shirt saja. Biasanya dia tidak akan memakai celana dalam kalau memakai kain batik. Kami sampai ke rumah Kakek yang sudah terkunci. Kakek telah berangkat ke Kuala Lumpur pagi-pagi sekali dengan mobil.

Sesampainya kami ke rumah, beruk Kakek menjerit-jerit. Aku sengaja menyuruh Ita untuk memberikan nasi dan air kepada beruk itu. Ita pun meletakkan nasi dan air di hadapan beruk Kakek. Beruk itu kelihatan tidak mengindahkan makanan yang diberikan Ita. Ita mengusap-ngusap kepala beruk itu.

“Bang, beruk ini nggak mau makan, Bang,” kata Ita kepadaku.

Aku pun mencoba memberi beruk itu nasi tapi beruk itu tetap tak peduli.

“Mungkin Kakek sudah memberinya makan ya?” kataku.

“Tapi nggak kelihatan ada bekas makanan di sini, Bang,” jawab isteriku.

“Iya, nggak juga ya,” kataku. “Ita cobalah bujuk beruk itu,” kataku kepada Ita.

“Baiklah, Bang,” jawab Ita. Ita lalu mengusap-usap kepala beruk itu perlahan-lahan. Saat itu Ita duduk bersimpuh. Tiba-tiba tangan beruk itu meraba-raba buah dada Ita.

“Bang, beruk ini meraba punya Ita,” kata Ita.

Aku melihat tangan beruk itu meremas t-shirt Ita.

“Biarlah kalau dia mau raba, mungkin beruk itu teringat akan bininya,” jawabku.

“Bang mungkin beruk ini sedang mengalami musim kawin. Karena itulah Ita rasa dia tak berselera untuk makan,” kata Ita. Aku cuma mengangguk saja.

“Bang, boleh Ita beri beruk ini raba ‘barang’ Ita?” tanya Ita kepada aku.

“Hati-hati sedikit, nanti digigitnya,” kataku kepada Ita.

Aku lihat Ita mengangkat t-shirtnya hingga ke pangkal dada. Buah dada Ita ditutupi oleh BH-nya saja. Memang kawasan rumah Kakekku itu jauh dari jalan orang berlalu-lalang. Jadi tak mungkin ada orang melihat apa yang sedang Ita perbuat. Lagipula kawasan tempat tidur beruk itu terlindung oleh garasi mobil Kakek.

Begitu Ita membuka t-shirtnya, beruk itu langsung saja menggondol buah dada Ita sehingga menyebabkan Ita terjatuh ke belakang karena terkejut. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun.

“Bang, tolong Ita!!” jerit Ita kepadaku. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun. “Itulah, lain kali hati-hatilah,” kataku kepada Ita.

“Beruk ini ganas sekali kalau melihat tetek Ita,” jawab Ita.

“Nggak apalah biar Abang tolong,” kataku.

Perlahan-lahan Ita memajukan buah dadanya kepada beruk itu. Tangan beruk itu langsung meremas buah dada Ita dengan kuat sambil mendengus-dengus. Buah dada Ita jadi kemerahan karena diremas dengan kuat oleh beruk itu.

Kulihat Ita menanggalkan BH-nya. Kemudian Ita berbaring di atas tanah dengan beralaskan t-shirtnya.

“Bang, Ita ingin memberi beruk ini merasakan barang Ita ya, Bang,” kata Ita.

“cobalah Ita beri, dia mau atau tidak,” jawabku.

Aku mulai penasaran ingin lihat beruk itu menyetubuhi isteriku. Peristiwa ini jelas sangat langka terjadi. Setelah Ita terbaring dia memainkan zakar beruk itu. Zakarnya lebih kurang 4 inci, dan kulitnya lebih kurang 1 inci setengah saja. Zakarnya berwarna kemerahan bila keluar dari kulupnya. Penis beruk itu terus dimainkan Ita sehingga beruk itu menjerit-jerit.

“Ita, Abang coba letakkan beruk ini di atas badan Ita,” kataku.

Ita lalu menyingkapkan kainnya sehingga menampakkan memeknya yang sudah kukerjai tadi pagi. Kain batik Ita disingkapkan hingga pangkal perutnya. Aku menyeret beruk Kakek menuju ke arah celah selangkangan isteriku yang sedang terlentang itu.

Setelah betul-betul berada di depan celah selangkangan Ita, aku meniarapkan beruk itu di atas perut Ita. Sementara itu aku membetulkan penis beruk itu agar masuk terus ke dalam vagina Ita. Sementara aku membetulkan kedudukan penis beruk itu, kulihat vagina Ita sudah tergenang air. Mungkin karena dia juga sudah terangsang untuk mengadakan hubungan seks dengan beruk ini.

Perlahan-lahan penis beruk itu kutusukkan ke dalam vagina Ita. Penis beruk itu perlahan-lahan membelah alur tebing kemaluan Ita dan terus menghunjam ke dasarnya. Beruk itu saat merasakan ada benda yang mengapit kemaluannya secara otomatis langsung menggenjot buntutnya.

Beruk itu terus menggenjot buntutnya dan penisnya keluar masuk ke dalam vagina Ita.

“Sedap juga, Bang, penis beruk ini,” kata Ita. Ita memeluk kepala beruk itu sementara aku terus membantu beruk itu menyetubuhi Ita.

“Sedapnya, Bang….!!!” jerit Ita. Aku lihat cairan putih semakin banyak keluar dari vagina Ita.

“Ooooo, sedaplah, Baaang…..” jerit Ita. Walaupun batang beruk itu kecil tapi beruk itu terus-menerus menikam dan menarik penisnya ke dalam vagina Ita kira-kira 15 menit tanpa henti. Kalau manusia tentu sudah muncratlah air maninya tapi beruk ini terus mengayunkan zakarnya seperti biasa. Kuat juga daya seks beruk ini, kataku dalam hati.

“Bang, Ita tak tahan lagi…. Ita rasa mau keluarlah Bang.”

Tiba-tiba kulihat tangan Ita terlepas dari memegang kepala beruk itu.

“Ita sudah keluar….” jerit Ita dengan lesu. Tangannya terjatuh lemas ke atas tanah.

“Sedap betul lah, Bang. Lama juga beruk ini menyetubuhi Ita,” kata Ita.

Ita keletihan. Kangkangan kakinya terjatuh menyebabkan jepitan vaginanya melonggar. Tiba-tiba beruk itu menjerit kuat sebagai protes dan Ita pun segera mengemut kuat vaginanya sampai terasa ada cairan keluar laju masuk ke dalam vaginanya

(Diceritakan oleh Ita) Ita rasa mungkin beruk itu telah memuncratkan air maninya ke dalam vagina Ita. Ita terus mengemut penis beruk itu dalam vagina Ita agar beruk itu betul-betul merasakan nikmatnya seks. Mungkin inilah seks pertama dan terakhir yang dirasakan oleh beruk ini.

Setelah semenit penis beruk itu di dalam vagina Ita, tiba-tiba beruk itu bangkit dan mencabut keluar penisnya. Aku lihat cairan putih jernih keluar mengalir dari dalam vagina Ita. Banyak juga cairan itu hingga membasahi kain dan baju Ita.

“Banyak sekali air mani beruk ini, Ita,” kataku kepada Ita yang masih terbaring keletihan. “Mungkin dia tak pernah mengeluarkannya, Bang, memang banyak,” jawab Ita.

“Bagaimana rasa penis beruk itu tadi, sedap?” tanyaku kepada Ita sambil mengulurkan BH-nya.

“Kalau boleh Ita mau simpan beruk ini sebagai teman Ita, Bang,” jawab Ita.

“Mana bisa, Kakek pasti nggak mau memberikan beruknya untuk tinggal di kota,” kataku kepada Ita.

Ita terus meraba-raba vaginanya yang basah kuyup itu. Dia mengikat kembali kain batik dan menyarungkan t-shirtnya yang kotor terkena tanah tadi. Setelah itu dia mengusap kepala si Jantan, beruk Kakekku yang telah dilayani oleh Ita. Kulihat beruk itu kini memakan habis semua nasi yang kami bawa tadi. Pastilah dia telah kehilangan tenaga karena lama menyetubuhi Ita sehingga sekarang makan dengan rakusnya.

Aku dan Ita meninggalkan rumah Kakek ketika matahari di atas kepala. Ita tersenyum dengan seribu kepuasan sementara aku tersenyum puas karena berhasil melihat isteriku disetubuhi oleh beruk. Sedapnya…..

Rabu, 15 Oktober 2008

betina untuk bruno 3

Tak lama kemudian, Bruno menyiramkan spermanya ke dalam mulutku. Dengan lahap aku menelannya. Sebagian lagi mengucur keluar dari mulutku dan jatuh melalui daguku ke dadaku yang telanjang. Semprotan air mani yang encer tapi pekat itu tersebar ke rambut dan seluruh wajahku, bahkan sampai ke bahu dan kedua payudaraku. Aku merasa puas sekali.

Sementara itu Parulian sejak awal mengabadikan adegan percintaan kami dengan sebuah handycam. Setelah selesai, dengan wajah dan badan yang berantakan karena basah kuyup oleh air mani anjing, aku tersenyum dengan manis ke arah handycam Parulian. Lidahku sesekali masih menjilati alat kelamin Bruno maupun air maninya yang membasahi jari-jariku. Sementara itu Parulian meng-close up wajahku selama beberapa saat.

Kupikir aku harus menunggu beberapa lama untuk memulai ronde berikutnya. Yang kutahu, seorang manusia lelaki bila telah mengalami orgasme akan menjadi lemas. Ternyata tidak demikian dengan kekasih hewanku. Kontolnya masih cukup keras. Sandra menyuruhku untuk menambah keras lagi kontol Bruno dengan mulutku. Aku melakukannya, dan dalam waktu singkat alat kelamin itu telah kembali ke ukuran maksimalnya. Aku merasa takjub dan senang memiliki kekasih yang perkasa seperti itu.

"Bagus. Nah, sekarang kita harus membuatmu dibuahi oleh sperma anjing", kata Sandra yang merasa puas dengan pekerjaanku. Ia membimbingku ke sofa dan mendudukkan diriku di antara mereka berdua. Aku segera mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi dan mereka mengambil kakiku masing-masing satu dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar, menawarkan memekku kepada Bruno. Bruno melompat menaiki tubuhku dan memegangiku dengan kedua kaki depannya tepat di bahuku. Tanganku menggapai ke bawah dan meraih kontolnya yang keras, serta membimbing ujungnya ke dalam lubang senggamaku.

Goyangan pinggul Bruno segera memompa kontolnya yang panjangnya hampir mencapai 16 cm ke dalam tempatnya, yaitu lubang memekku. Aku merintih-rintih kenikmatan dibuatnya. Aku kehilangan kontrol. Tak kusadari aku menjeritkan kata-kata kotor yang hanya pantas diucapkan oleh pelacur murahan yang tak bermoral. "Oh, ya.. Rasanya enak sekali.. Aaah, enak sekali dikawini anjing.. Ya, ya.. setubuhi aku terus. Pompa.. ya, pompa lagi anjingku.. kekasihku.. Oooh. Aku milikmu, setubuhi terus betinamu.. Oooh, hamili aku.. Hamili aku!"

Anjing itu terus memompaku dengan keras dan cepat selama sepuluh menit sebelum menyemprotkan air maninya yang banyak sekali ke dalam diriku. Aku dapat merasakan air maninya yang hangat menghujani rahimku. Aku baru menyadari kalau air mani anjing terasa lebih panas daripada air mani manusia.

Bruno berusaha menarik kontolnya dari dalam memekku setelah puas melampiaskan nafsunya terhadap diriku, tetapi ia tak bisa melakukannya. Kami telah terikat bersama. Kedua alat kelamin kami tak bisa dipisahkan.

Seekor anjing jantan memiliki buhul atau gumpalan yang besar di sekitar pangkal kelaminnya. Buhul itu dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa kontol si anjing jantan tetap berada di dalam memek betinanya dalam waktu yang cukup lama ketika mereka bersetubuh. Dengan demikian sperma si anjing jantan mempunyai cukup waktu untuk mencapai sel-sel telur betinanya. Tanpa mekanisme itu, sebagian besar air mani yang masuk ke dalam memek si betina akan langsung keluar lagi sehingga memperkecil kemungkinan si betina untuk hamil. Kedua sejoli ini baru bisa terpisah setelah kelamin si jantan mengerut kembali, dan ini memakan waktu antara 15 sampai 45 menit. Paling tidak demikianlah menurut berbagai literatur tentang perkawinan anjing yang sempat kubaca dalam rangka menghadapi perkawinanku dengan Bruno.

Dengan demikian aku sama sekali tak terkejut ketika kami tak terpisahkan setelah selesai bersetubuh. Justru peristiwa inilah yang kuharap-harapkan. Aku benar-benar menikmati saat-saat yang sangat intim tersebut. Belum pernah sebelumnya aku merasa begitu dimiliki dan dikuasai. Belum pernah juga sebelumnya aku merasa begitu pasrah menyerahkan diriku untuk dihamili, apalagi oleh seekor anjing. Pikiran-pikiran itu saja membuatku mengalami orgasme.

Sandra meletakkan kedua kaki depan Bruno di pundakku selama kami menunggu. Sementara aku mengelus-elus tubuh kekasih hewanku yang berbulu dan kami pun berciuman dengan mesra dan intim. Pasangan Sandra dan Parulian dapat melihat dengan jelas kedua alat kelamin kami yang saling terhubung.

Setelah kami berdua terpisah setengah jam kemudian, Parulian bertanya kepadaku, "Maria, apakah kamu benar-benar bisa mengatur suamimu supaya ia tak mendahului Bruno jika ingin menyetubuhimu?"
Aku memandang Parulian dan berkata, "Itu bisa membuat Anda terangsang, ya kan?"
"Ya. Itu membuat kami berdua terangsang."
"Aku merasa senang jika memang demikian. Ya, aku percaya dapat melakukannya. Apa yang sebenarnya Anda inginkan?"
"Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya."
"Ada lagi. Kami ingin ada jaminan bahwa kau tak akan melanggar aturan itu. Kami tak dapat menerima jika kau berbohong dan berselingkuh terhadap anjing kami", Sandra menambahkan.
"Tentu saja tidak. Apa usulan Anda untuk itu?"
"Sabuk kesucian, dengan kuncinya kami sendiri yang memegang."
"Sabuk kesucian! Kedengarannya ide yang sangat bagus. Apakah Anda memilikinya?"
Sandra tersenyum dan berkata, "Tunggu sebentar."

Ia kembali dengan sebuah alat yang aneh. Aku berdiri untuk memeriksa alat itu. Nampaknya seperti bagian bawah dari bikini tali, hanya saja terbuat dari kombinasi sabuk metal dan rantai besar yang terbentang di tengah-tengah sabuk itu. Sandra memakaikan sabuk itu di sekeliling pinggulku dengan erat dan melewatkan rantai itu dari bagian belakang sabuk melalui celah pantatku, terus menutupi lubang kemaluanku di bagian depan, lalu mengaitkannya kembali ke sabuk bagian depan dengan ketat dan menguncinya. Dengan kondisi seperti itu, aku benar-benar tak dapat lagi disetubuhi.

"Nah, begitulah. Kau tetap bisa pipis dan besar dengan sabuk itu terpasang pada tubuhmu. Hanya saja kau harus bekerja ekstra untuk membersihkannya. Kau selalu bisa datang kemari dan kami akan membukakan kuncinya."

Aku segera pulang ke rumah setelah itu. Beni belum lama tiba di rumah dan baru saja hendak menonton TV sambil membawa beberapa kaleng bir dan sepiring cemilan. Ia terpaku di tempatnya dan memandangi sekujur tubuhku. Hampir saja kaleng-kaleng bir itu terlepas dari tangannya. "Sayang, apa yang terjadi?"
Aku berjalan ke arahnya. Pandangan kedua mata suamiku tertuju pada alat yang terpasang pada selangkanganku, lalu pada cairan yang mengalir menuruni kedua kakiku.
"Ini air mani anjing, Beni. Aku baru saja bersetubuh dengan anjing tetangga kita."

Aku segera berlalu dari hadapannya menuju pancuran untuk mandi membersihkan diriku. Beni mengikutiku persis seperti yang kuharapkan. Sementara itu aku menyalakan kran air dan mulai mandi di bawahnya.
"Maukah kau memperjelas apa yang kau katakan barusan?"
"Kata-kata apa yang tidak kau mengerti?"
"Kau bersetubuh dengan seekor anjing?"
"Bagus, Beni. Kurasa kau mengerti maksudku."
"Mengapa?"
"Karena ia menyetubuhiku lebih baik dan lebih lama daripada kamu. Ia adalah pemain seks yang hebat. Aku adalah betinanya. Ia adalah kekasihku. Ada pertanyaan yang lain?"
"Apakah tetangga kita tahu?"
"Justru merekalah yang merencanakannya. Tugasku adalah melayani anjing mereka. Dan aku mengerjakan tugasku dengan sungguh-sungguh."

"Lalu alat apa itu dan kenapa kamu berkeliaran bugil di luar?"
"Aku tidak bugil. Aku mengenakan sabuk kesucian."
"Sabuk kesucian? Itu kan untuk perawan-perawan di zaman dulu."
"Bukan, sabuk ini untuk mencegah kontol yang tak berhak mengakses memek dan lubang pantat yang sudah dimiliki secara pribadi."
"Siapa yang memegang kuncinya?"
"Keluarga Sandra dan Parulian, tentu saja."
"Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?"
"Yah, itulah masalahnya. Tetangga kita mempunyai aturan. Bruno, anjing mereka, akan selalu mendapat jatah pertama. Kau baru boleh menyetubuhiku setelah itu. Mereka bilang mereka mau saja mengizinkanmu untuk menyetubuhiku selama kamu mau mengikuti aturan ini dan aku sudah menjamin mereka dan mengatakan pada mereka bahwa mereka tak perlu khawatir."

Aku sebetulnya agak terkejut (sekaligus gembira) ketika Beni ternyata tidak bereaksi negatif. Pandangan matanya tak terlepas sedikit pun dari sabuk kesucianku. Ia memintaku untuk menjelaskan secara rinci kejadiannya. Birahinya yang menggebu mengkhianati perasaannya yang seharusnya timbul akibat perbuatanku mengambil seekor anjing sebagai kekasih. Aku pun memberinya penjelasan secara rinci tentang semua peristiwa yang terjadi dan efeknya terhadap diriku. Ia hampir saja berejakulasi di celananya ketika kusebutkan bahwa Bruno akan selalu mendapatkan jatah memek yang segar dan bersih, sedangkan ia akan selalu mendapatkan bagian sesudahnya hanya jika pasangan Sandra dan Parulian merasa puas dengan penerimaannya yang total dan sungguh-sungguh atas aturan yang berlaku ini. Malamnya, ia sudah sangat siap untuk menelepon keluarga Sandra dan Parulian dan menjelaskan bahwa ia sudah memahami peranannya.

Aku hampir-hampir mengalami orgasme hanya mendengarkan suamiku memberi tahu mereka bahwa ia akan selalu mendahulukan Bruno dan bahwa aku adalah kekasih dan betina si Bruno yang nomor satu. Mereka lalu menyuruh Beni untuk membawaku ke sana untuk dikawini lagi oleh Bruno.

Beni pada awalnya tak suka berjalan bersamaku yang hanya mengenakan sabuk kesucian, tapi aku tak memberinya pilihan lain. Selesai berkenalan dengan suamiku, pasangan Sandra dan Parulian melepaskan sabuk kesucianku dan menyuruhku merendahkan diriku dalam posisi merangkak untuk memberikan pelayanan seks oral kepada anjing mereka di depan suamiku.

Setelah itu Bruno menyetubuhiku dari belakang dengan gaya anjing dan mengisi peranakanku dengan benih-benihnya. Seperti sebelumnya, setelah usai aku terikat dengan Bruno selama sekitar setengah jam. Beni sepenuhnya menikmati, menontonku kawin dengan hewan liar itu. Begitu aku dan Bruno terpisah, pasangan Sandra dan Parulian menyerahkan sebuah kalung anjing kepada Beni yang langsung memasangkannya di leherku. Mereka menyuruh Beni supaya aku selalu mengenakan kalung anjing itu. Kalung itu mempunyai sebuah tempat nama yang menggantung dengan tulisan "Betina si Bruno" yang tertulis di kedua sisinya dengan huruf-huruf besar yang mudah dibaca dari jarak beberapa meter. Aku mengenakan kalung itu dengan bangga dan bermaksud untuk memakainya terus setiap saat. Parulian mengaitkan seutas tali ke kalung anjingku dan menyerahkan ujungnya kepada Beni.

Sejak saat itu, Beni tak pernah menyetubuhiku sebelum Bruno mendapatkan bagiannya. Jika masa suburku tiba, minimal selama tiga hari aku selalu menginap di rumah keluarga Sandra dan Parulian supaya bisa kawin setiap saat dengan anjing mereka. Juga untuk meyakinkan bahwa tak ada benih suamiku yang bisa menghamiliku selama masa itu. Aku mencintai suamiku, aku senang menjadi istrinya dan sama sekali tak mempunyai keinginan untuk bercerai dengannya, tapi aku juga sudah tak ingin lagi memiliki anak darinya karena aku sudah mempunyai kekasih baru, Bruno. Jika aku harus hamil, biarlah itu berasal dari benih anjing kekasihku.

Selama aku menginap di rumah keluarga Sandra dan Parulian, aku tak pernah mengenakan pakaian apa pun kecuali kalung anjingku. Bahkan ketika pergi ke rumah mereka pun aku tak membawa pakaian secuil pun. Demikian pula ketika aku pulang kembali ke rumah suamiku setelah masa suburku lewat.

Beni tampak senang menjalani kehidupan seperti itu. Kami mulai memiliki segudang koleksi foto dan video tentang kehidupan cintaku bersama Bruno, kebanyakan berisi adegan-adegan percintaan seksual secara eksplisit. Kadang-kadang Beni serta pasangan Sandra dan Parulian membawaku dan Bruno ke hutan kecil dekat rumah kami untuk berjalan-jalan. Kami pergi bermobil ke sana dan memarkir mobil di pinggiran hutan, lalu berjalan kaki masuk ke dalamnya. Tentu saja aku tak mengenakan apa-apa kecuali kalung anjingku dan seutas tali kekang yang terkait padanya. Lalu mereka bertiga berjalan-jalan mengelilingi hutan sambil memegang tali-tali yang terikat pada leherku dan leher Bruno. Aku diperlakukan sama seperti anjing karena aku adalah betina Bruno. Jika Bruno tiba-tiba muncul birahinya maka ia akan segera mengawiniku saat itu juga tanpa mempedulikan tempatnya. Sementara itu suamiku serta pasangan Sandra dan Parulian pun akan berhenti sejenak dan mengabadikan seluruh adegan itu dengan kamera dan handycam mereka.
Yah, begitulah kehidupan seekor anjing. Dan aku sangat menikmatinya!

TAMAT

betina untuk bruno 2

Keintiman antara aku dan Bruno semakin bertambah. Aku dapat mengetahui bahwa sandra dan Parulian sangat senang melihat kami berperilaku sebagai sepasang kekasih. Karena itu aku pun berperilaku sesuai sudut pandang itu. Kami membiasakan diri untuk bercumbu seperti yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Membuat Bruno untuk menciumku sangatlah mudah. Aku tak tahu, kadang aku berpikir anjing itu benar-benar mencintaiku sebagai kekasihnya. Bruno dapat mencium mulutku dalam-dalam, sementara aku memegang kepalanya dan mencium balik, kadang sambil mengisap lidahnya.

Karena seks oral adalah bagian dari cumbuan dan permainan pembuka yang biasa dilakukan oleh manusia, dan Bruno telah melakukannya padaku, aku merasa berkewajiban untuk memberinya pelayanan intim yang sama. Mengisap dan menjilati alat kelamin seekor anjing benar-benar merupakan hal paling cabul dan tak bermoral yang pernah kulakukan sampai saat ini. Anehnya kecabulan itu benar-benar membawaku pada suatu birahi tertinggi yang pernah kualami. Sementara itu Sandra dan Parulian terus menyaksikan dengan seksama adegan demi adegan percintaan kami.

Menyenangkan pasangan Sandra dan Parulian sekarang merupakan urutan tertinggi dalam daftar prioritasku. Aku mencintai pasangan ini. Sandra khususnya, sudah seperti seorang ibu bagiku. Sedangkan Parulian tak pernah memanfaatkan keintiman yang kami bagi bersama, walaupun sebenarnya aku sudah tidak keberatan dan berharap ia melakukannya. Dalam waktu yang singkat ini, telah tumbuh cinta di antara kami bertiga. Melihat mereka senang atas semua perbuatanku selama ini adalah satu-satunya yang kubutuhkan untuk melakukan yang lebih lagi. Karena itu aku langsung mengikut apa yang mereka inginkan ketika suatu saat akhirnya Sandra menegurku.

"Kau belum melakukannya dengan baik, Maria. Kau belum belajar bagaimana melayani Bruno dengan benar. Kupikir kau mengerti apa yang kumaksud kan?"
"Kau ingin agar ia menyetubuhiku dan mengawiniku serta mengisi rahimku dengan benih anjingnya?"
"Tepat sekali, Maria. Itulah pelayanan yang kami harapkan dari seorang betina manusia. Dan bukankah itu perananmu?"
"Ya, Nyonya Sandra. Aku adalah betina untuk anjing Anda."
"Kau bukanlah betina yang baik kalau ia tak dapat mengawinimu dan menyemprotkan air mani anjingnya ke dalam memekmu, tempat semestinya ia berada."
"Nyonya Sandra, Bruno adalah kekasihku, dan aku adalah betinanya. Ia kini berhak atas memekku, dan aku tak memiliki hak untuk menolaknya mengakses milikku yang paling pribadi itu. Sperma anjing anda tempatnya adalah di dalam rahimku. Bahkan ia kini lebih berhak daripada suamiku sendiri. Hubunganku dengan suamiku semata-mata hanyalah karena ikatan pernikahan, sedangkan anjing Anda adalah kekasihku."
"Ya, itu sangat penting. Kebutuhan Bruno harus dilayani lebih dulu, selalu. Akan lebih baik kalau suaminya mengetahui kenyataan ini", Parulian menimpali.

"Bagaimana seandainya aku menyuruh Beni untuk selalu terlebih dulu meminta konfirmasi kepada Anda kalau-kalau Bruno ingin menyetubuhiku sebelum ia melakukan hal yang sama terhadap diriku? Apakah itu cukup memuaskan?"
"Akankah suamimu melakukan hal itu?" Tanya Parulian.
Aku tersenyum dan mengangguk.

"Kau yakin?" Sandra ikut bertanya.
"Aku tak akan memberikan tawaran jika aku tak dapat memenuhinya. Aku akan menceritakan semuanya kepada suamiku. Aku akan membuatnya mengerti bahwa Bruno adalah kekasihku dan kebutuhannya harus dipenuhi lebih dulu. Aku akan mengatakan pada Beni bahwa ia hanya dapat menyetubuhiku setelah Bruno melakukannya terhadapku terlebih dahulu. Dia akan selalu mendapatkan tubuhku yang habis pakai, dan memekku yang masih bersih dan wangi hanya disediakan bagi Bruno. Aku akan menyuruhnya menelepon Anda untuk mengatakan langsung secara pribadi bahwa ia dapat memahami keadaan yang berlaku mulai sekarang. Sekarang bolehkah aku bersetubuh dengan anjing Anda?" aku memohon.
"Oh tidak secepat itu", kata Sandra, "Apakah kau sudah memasuki masa suburmu saat ini?"
Aku menggeleng karena aku memang baru akan memasukinya sebentar lagi.
"Nah, kau kembalilah lagi ke sini kalau sudah memasuki masa suburmu, sehingga sel-sel telur di dalam rahimmu sudah matang dan siap untuk menerima benih-benih dari anjing kami."

Aku seperti tersetrum oleh aliran listrik mendengar ide itu. Gairahku meledak-ledak. Walaupun kecewa karena tak dapat bersetubuh dengan anjing mereka hari ini, aku setuju untuk mengikuti kehendaknya.
"Baiklah, Nyonya Sandra. Aku akan kembali lagi pada saat tubuhku sudah benar-benar siap untuk dibuahi oleh benih anjing Anda dan pada saat birahiku sedang mengalami puncaknya. Untuk itu, mulai sekarang aku akan menghentikan pemakaian pil kontrasepsiku."
"Bagus, tapi jangan lupa. Sampai masa suburmu habis bulan ini, jangan sekali-kali kau bersetubuh dengan suamimu, dan selama masa suburmu berlangsung, kau boleh datang ke mari tiap hari untuk menemui kekasihmu dan kawin dengannya."

"Terima kasih, Nyonya Sandra. Mulai sekarang, setiap datang masa suburku tempatku adalah di sini bersama Bruno. Beni tidak berhak menyentuhku selama itu."
"Sebelum kau pulang, bawalah ini dan minumlah secara teratur. Ini adalah jamu yang manjur untuk meningkatkan kesuburan wanita", Parulian memberiku sekotak jamu yang diambilnya dari dalam lemari.
"Terima kasih. Aku berharap aku dapat mengandung dan melahirkan anak-anak Bruno", aku tersenyum.
"Nah, sekarang pulanglah. Bawalah pakaian dan sepatumu, tapi kau tak boleh mengenakannya. Pulanglah dalam keadaan bugil", kata Sandra, "Begitu pula lain kali kau datang kemari, tak perlu mengenakan pakaian apa pun juga. Mengerti?"
Bukan main, pasangan ini selalu memiliki ide-ide yang mengejutkanku. Bagaimanapun, aku setuju untuk mengikuti aturannya. Aku pun tersenyum dan mengangguk. "Ya, Nyonya Sandra."

Aku menyeberangi jalan dengan jantung yang berdebar kencang sekali. Selain rumahku dan rumah keluarga Parulian yang berseberangan, rumah-rumah yang lain terletak cukup jauh. Bagaimanapun, setidaknya ada lima rumah di sekitar situ yang dari dalamnya penghuninya dapat melihat adanya seorang wanita bugil sedang menyeberang jalan di tempat terbuka pada siang hari bolong. Tentu saja jika mereka kebetulan memperhatikannya. Yang jelas jarak ke rumahku yang tak sampai sepuluh meter serasa jauh sekali.

Begitu tiba di pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara mobil mendekat. Bulu kudukku segera berdiri? Aku belum lagi membuka pintu rumah ketika mobil itu melewatiku. Aku hanya bisa berdiri terpaku tanpa bergerak sedikit pun. Setelah mobil itu berlalu, barulah aku menengok ke belakang dan menyadari bahwa pasangan yang ada di dalam mobil itu bahkan tak melihat sedikit pun ke arahku. Perasaan lega dan luapan gairah segera membanjiri diriku. Aku pun segera masuk ke dalam rumah.

Dua hari kemudian, aku telah memasuki masa suburku. Sampai saat itu aku sama sekali tidak pernah melayani Beni. Sementara pil-pil kontrasepsi tak pernah lagi kutelan. Sebaliknya jamu pemberian Parulian kuminum teratur tiga kali sehari. Setelah membuat janji dengan keluarga Sandra dan Parulian, dengan hati yang mantap aku keluar rumah dalam keadaan bugil. Rasa takut terlihat oleh orang lain telah menguap bersamaan dengan panasnya cuaca di sini. Aku tak lagi peduli. Gairah karena berjalan bugil menyeberangi jalan di siang hari bolong dengan keluarga Parulian memperhatikannya membuat tubuhku bergetar senang bercampur tegang.

Perjalananku terinterupsi oleh sebuah mobil yang lewat ketika aku hampir mencapai pintu rumah keluarga Sandra dan Parulian. Aku yakin si pria pengemudi mobil melihatku. Mobilnya melambat di depanku. Ketika satu mobil lagi lewat, aku merunduk di balik semak-semak. Lingkungan rumahku yang sepi tiba-tiba menjadi ramai. Saat itulah aku sadar bahwa sekarang adalah waktu penggantian shift di pabrik. Para buruh mulai keluar ke jalan. Begitu pintu rumah keluarga Parulian terbuka, aku pun segera menyelinap masuk.

Mereka membawaku ke meja makan untuk pemeriksaan. Mereka membaringkanku seperti bahan percobaan di laboratorium dan menggunakan pena cahaya untuk melihat ke dalam celah kewanitaanku. Sandra menyatakan semuanya kelihatan bagus dan bersih.

Bruno mencakar-cakarkan kedua kaki depannya pada pintu kaca meminta masuk, seolah tak sabar untuk memenuhi hasratnya mendapatkan diriku. Sandra memutar tubuhku sehingga memekku langsung menghadap ke arah anjing itu. Sambil memainkan jari-jemarinya di memekku, ia berkata, "Lihat Bruno, kami membawakanmu memek untuk kau setubuhi. Dia akan jadi betina yang baik mulai saat ini dan akan mengizinkanmu memompa kontolmu ke dalam memeknya. Kau bisa kosongkan semua air mani yang kau punya ke dalam rahim pelacur betina yang cabul ini kapan saja kau mau, sayang."

"Ayolah, sayang. Kita sudah memisahkan dua kekasih ini cukup lama. Tidakkah kau lihat keduanya sudah sangat ingin kawin? Lihat denyutan memeknya yang kencang tandanya sudah siap untuk menerima kontol anjing kita. Dan lihat cairan yang keluar itu, memeknya sudah ngiler untuk dimasuki kontol anjing. Kau menginginkan kontol anjing itu kan, pelacur betina?"
"Ya, ya! Aku sangat ingin merasakan kontol anjing itu di dalam memekku. Aku butuh disetubuhi oleh seekor hewan. Memekku akan mengisap kontolnya sampai kering", balasku bernafsu.
"Oh, tidak, sebelum mulutmu membuat kontol anjing kami mengeras dan tegang", kata Sandra. Ia membuka pintu kaca sementara suaminya membantuku berdiri. Bruno melonjak-lonjak kegirangan dan memakan memekku sementara aku membukakan bibir memekku untuknya, sambil berkata, "O ya, sayang. Itu milikmu sepenuhnya sekarang."

Bruno tampak lebih kegirangan daripada hari-hari sebelumnya, dan alat kelaminnya yang panjang menjuntai keluar dari dalam sarungnya yang berbulu sementara ia mengelilingiku. Ketika Sandra merasa kami berdua sudah siap, ia mengangkat kedua kaki depan Bruno. Anjing itu berdiri di hadapanku dengan kedua kaki belakangnya, kontolnya yang menegang menjulur ke depan. Aku segera berlutut di hadapannya dan mulai mengisap kontolnya dengan rakus, menelan seluruhnya sampai masuk ke tenggorokanku sementara kedua tanganku memijati kedua biji zakarnya. Ternyata alat kelamin Bruno semakin lama semakin tumbuh berkembang di dalam mulutku. Aku takjub mengamati besarnya yang jauh melebihi batang kemaluan Beni. Bentuknya pun tampak gemuk dengan warna pun merah menyala.

Aku benar-benar merasa direndahkan serendah-rendahnya dan dipermalukan dengan berada dalam keadaan bugil bersimpuh di hadapan seekor anjing, memberinya pelayanan seks oral sambil diperhatikan oleh pasangan Sandra dan Parulian. Sepertinya aku benar-benar menghambakan diriku kepada mereka dan anjingnya. Dan aku menyukainya?!

Sandra berkata, "Aku seharusnya membiarkan dia berejakulasi di dalam mulutmu."
Aku mendongakkan wajahku dengan penuh harap untuk berkata, "Anda harus. Ya, Anda harus membiarkan anjing Anda melakukan itu?!
Suami istri itu saling tersenyum. Sandra berkata, "Baiklah, betina yang cabul. Kalau kau memang ingin meminum dan mandi dengan air mani kekasihmu, aku mengizinkannya."
Aku tersenyum senang dan mengangguk.

Bersambung ke bagian 03

betina untuk bruno

Pengelola sumbercerita.com yang terhormat, Saya ingin berpartisipasi mengirimkan cerita tentang hubungan kelamin antara wanita dengan hewan. Besar harapan saya, cerita ini dapat dimuat pada situs anda. Cerita ini sebenarnya sudah dimuat pada situs saya sendiri. Jika Anda ingin mengeceknya, silakan kunjungi http://www.angelfire.com/id/kluBHis>http://www.angelfire.com/id/kluBHis

Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Kehidupan bersama Beni memang membosankan, secara seksual maksudnya. Beni sebenarnya seorang yang baik dan bertanggung jawab. Semua kebutuhan rumah tangga telah dipenuhi olehnya sehingga aku tak perlu bekerja. Kenyataannya, itu justru menjadi bagian dari masalahku. Sebagai seorang wanita berusia 22 tahun tanpa anak, yang menikah dengan seorang pria pekerja yang konservatif berusia 35 tahun, membuatku mempunyai sangat banyak waktu untuk berkhayal macam-macam. Aku juga mempunyai sangat banyak waktu untuk bermasturbasi.

Jika mau berusaha, mungkin aku bisa saja mencari seorang kekasih gelap. Aku memiliki wajah dan tubuh yang lebih dari cukup untuk kupakai guna menarik lelaki mana pun yang kumau, tapi aku tak pernah melakukannya. Alasan utama untuk tidak melakukan hal semacam itu adalah karena pendidikan moral yang sangat ketat yang kuterima sejak kecil. Aku menjalani masa kecilku dalam sebuah keluarga **** (edited) yang taat di pedalaman Jawa Tengah. Walaupun ibuku orang Belanda, namun beliau sangatlah puritan.

Keadaan di tempat tinggalku sekarang tidak lebih baik, tapi paling tidak tak ada seorang pun yang mengenalku di sini. Kami tinggal di daerah yang asalnya direncanakan sebagai kota baru di luar kota Jakarta. Krisis moneter menyebabkan pembangunan kota baru ini terhenti total. Perusahaan pengembangnya pun telah bangkrut, padahal pembangunannya belum mencapai 15% dari rencana semula. Rumah mungil kami terletak di lingkungan yang terpencil dekat sebuah pabrik. Hanya sedikit orang di sini yang berhubungan dengan tetangganya. Kebanyakan tetangga kami bekerja di pabrik itu, sedangkan suamiku bekerja di Jakarta. Mereka tak bersosialisasi dengan orang luar seperti kami. Rumah-rumah di sini terpisah cukup jauh satu sama lainnya. Hanya ada satu rumah yang terletak tepat di seberang rumah kami. Rumah itu pun sudah lama kosong.

Ketika rumah itu akhirnya ditempati oleh sepasang suami isteri, aku merasa kegirangan. Kuputuskan untuk melakukan usaha supaya dapat bertemu mereka. Mereka adalah pasangan tua. Usia mereka sekitar 50-an, tapi aku selalu dapat bergaul dengan orang-orang yang lebih tua. Nampaknya mereka baik dan ramah. Mungkin mereka ingin menghabiskan masa pensiunnya di tempat yang terpencil ini. Kupikir mereka bisa menjadi sahabat yang baik.

Setelah suamiku berangkat ke kantor, aku berdandan dan mengenakan gaun satu potong yang berukuran mini. Udara di sini memang panas. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, kuambil sekeranjang buah-buahan yang telah kusiapkan dan menuju rumah mereka. Bawaanku lumayan berat sehingga aku harus memegangnya dengan kedua tanganku.

Ketika si suami membukakan pintu, kuucapkan salam dan kuperkenalkan diriku. Lelaki itu memintaku menunggu sebentar lalu menutup pintu persis di depanku. Aku berdiri tertegun mendapatkan sambutan seperti itu dan merasa sedikit tersinggung.

Aku menunggu beberapa menit. Baru saja aku hendak beranjak pergi, ketika pintu kembali terbuka dan mereka berdua berdiri di sana mempersilakanku untuk masuk. Aku tersenyum sambil melangkah masuk, berharap seseorang mengambil keranjang buah dari tanganku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu masuk ke dalam rokku dari arah belakang. Sesuatu yang basah menyentuh paha bagian dalamku, dekat selangkangan. Ketika jilatan hangat dari lidah yang basah menjalari selangkanganku, barulah aku sadar kalau mereka memiliki seekor anjing. Anjing yang besar. Anjing yang besar dan cabul. Aku tak habis pikir, mengapa mereka tak menempatkan hewan yang nakal seperti itu di luar sebelum mengundang seorang wanita masuk ke dalam rumah mereka.

Aku berusaha untuk tidak gelagapan dengan harapan si istri melihat apa yang terjadi dan menolongku. Sayangnya ia tampaknya malah sibuk mengagumi buah-buahan yang kubawa. Akhirnya aku menggeserkan sedikit badanku sehingga seharusnya ia dapat melihat di mana anjing miliknya meletakkan kepalanya. Akan tetapi ternyata ia bersikap seolah-olah tidak melihatnya, dan kenyataan itu benar-benar menggangguku. Sementara itu, tanganku mulai terasa pegal dan lututku terasa lemas.

Si anjing pindah ke hadapanku dan mulai mengendus-endus ke dalam rokku lagi. Kali ini ia menempelkan moncongnya ke klitorisku yang terasa membara dan menjilatinya dengan lebih keras lagi. Kali ini aku benar-benar yakin, pasangan ini mengetahui tingkah laku anjingnya, karena mereka justru memberi ruang bagi si anjing untuk mengakses diriku. Selama tanganku memegang keranjang, aku tak dapat berbuat apa-apa dan sepenuhnya berada di dalam kendali anjing mereka, dan mereka sengaja membiarkan itu terjadi. Kenyataan itu serasa menyiramkan aliran listrik yang menggetarkan seluruh urat syarafku. Mereka membiarkanku menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan cabul anjing mereka dengan mengajakku ngobrol sekedar berbasa-basi, dan aku pun melayaninya.

Beberapa menit berlalu sudah. Ketika mereka melihat bahwa aku tidak menunjukkan tanda-tanda akan kabur ke arah pintu, si istri mengambil keranjang buah itu dari tanganku. Tinggallah aku berdiri di hadapan mereka dengan kepala anjing mereka bergerak-gerak dengan kencangnya di dalam rokku. Saat itu juga aku menginginkan keranjang buah itu kembali karena aku tak tahu apa yang harus kuperbuat dengan kedua tanganku.

Aku harus melakukan sesuatu, maka kudorong kepala anjing yang sedang birahi itu. Sedikit menunjukkan penolakan rasanya merupakan tindakan yang tepat dalam situasi seperti itu. Usaha itu sia-sia. Aku tahu wajahku sudah seperti udang rebus, namun pertolongan dari pasangan itu tak kunjung datang. Aku bahkan bisa melihat mata mereka terfokus pada selangkanganku dengan seringai gembira ketika ujung rokku terlempar ke atas pada setiap sentakan kepala anjing mereka.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Perlahan, aku berhenti melawan. Lidah anjing itu membuatku gila. Sentakan-sentakan dari daging lembut panjang yang basah dan hangat itu membawaku ke puncak kenikmatan. Aku tak ingin jilatan-jilatan yang nikmat itu berhenti. Sandra dan Parulian **** (edited), pasangan suami istri itu terus mengajakku ngobrol seolah-olah tak ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi. Aku pun tetap melayani mereka. Situasi ini menambah rangsangan pada diriku. Mereka memainkan semacam permainan denganku dan aku mulai menyukai permainan ini.

Setelah puas ngobrol, Sandra mendekatiku dan menawariku untuk duduk. Dia memeluk pundakku dan membimbingku ke sofa. Aku melangkah dengan hati-hati supaya tak mengganggu aktifitas anjing mereka. Ketika aku terduduk, anjing itu segera membuatku terkejut. Anjing labrador hitam yang besar itu mencengkeram paha kananku yang terbuka dan mulai memompa kemaluannya seolah-olah sedang bersetubuh dengan seekor betina. Aku dapat merasakan kontolnya yang panjang dan tebal bergerak menggesek-gesek kaki mulusku yang telanjang. Sandra dan Parulian duduk mengapitku sementara anjing mereka terus mengunci kakiku dan memompanya.

Kepala anjing itu berada tepat di atas payudara kananku, air liurnya menetes ke atas dadaku yang terbuka. Sekilas aku menengok ke bawah dan melihat batang kelamin yang besar dan merah menyala bergesekan dengan kaki bagian dalamku. Batang kelaminnya terasa begitu panas, licin dan keras.

Parulian menepuk-nepuk kepala anjing itu. Dia sebenarnya mengarahkan kepala anjingnya sehingga lidahnya terus-menerus meneteskan air liur tepat di antara belahan dadaku. Posisi wajahku berada sangat dekat dengan mulut anjing itu. Aku dapat merasakan hembusan nafas anjingnya menerpa wajahku. Air liurnya pun kadang terpercik ke wajahku. Kejadian ini benar-benar porno dan cabul, tapi sekaligus juga merangsang birahiku. Aku berusaha keras menahan keinginan untuk mengisap lidah anjing itu yang tergantung-gantung. Akhirnya anjing itu menyemprotkan air maninya dalam jumlah yang besar ke sekujur kaki kananku.

Anjing itu menjilati wajahku sementara otot-otot mulutku mengendur. Lidahnya menyusup masuk ke dalam mulutku, membuatku terkejut. Ia berulang-ulang menjilati bagian dalam mulutku, sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh seekor anjing pun terhadapku. Aku membiarkannya melakukan apa pun yang diinginkannya. Dengan sadar kubiarkan mulutku tetap terbuka untuk meneruskan french kiss yang tak lazim ini.

Sandra berkata, "Menyenangkan ya, Sayang? Bruno kini memiliki seorang teman wanita." Bruno, anjing itu, lalu melepaskan kakiku yang basah kuyup karena air maninya. Suami istri itu terus mengajakku ngobrol sementara air mani anjing mereka bergerak turun menelusuri kakiku yang terekspos sampai ke selangkangan. Aku berusaha tetap bersikap normal walaupun mata mereka hampir-hampir tak lepas menatap kakiku. Aku tak merasa perlu untuk merapikan rokku yang berantakan.

"Kami sangat menghargaimu karena mau melayani anjing kami yang berperilaku buruk. Kebanyakan wanita tak mau melakukan hal itu. Kami khususnya menghargaimu karena mengizinkan Bruno untuk melepaskan birahinya pada kakimu yang indah. Bukankah kaki Maria indah, Sayang?" kata Sandra.
"Sangat indah. Aku yakin Bruno sangat terpuaskan dengannya", jawab Parulian.

Mereka menolongku berdiri dan membimbingku ke pintu. Masih dengan penampilan yang berantakan dan birahi yang bergejolak, aku melangkah melewati pintu. Saat itu Sandra berkata, "Kembalilah kapan saja ada waktu. Aku yakin Bruno akan senang menemuimu lagi."

Setelah itu pintu pun tertutup dan sayup-sayup dapat kudengar tawa senang mereka di baliknya. Aku menyeberangi jalan dengan setengah berlari. Aku benar-benar merasa shock. Setibanya di rumah aku bermasturbasi sambil mandi di pancuran, lalu di atas tempat tidur setelah mandi, ketika memasak makan malam dan dua kali lagi sebelum akhirnya aku beristirahat. Kejadian pagi itu benar-benar membangkitkan fantasi yang luar biasa bagi diriku.

Dua hari kemudian, aku kembali ke rumah pasangan tersebut. Ketika melihatku, mereka tahu persis maksud kedatanganku. Aku yakin mereka tahu. Mereka tak perlu lagi penjelasan. Parulian mempersilakanku untuk masuk sementara Sandra pergi ke belakang untuk memanggil anjing mereka. Hal yang sama kembali terulang, hanya kali ini aku jauh lebih siap. Aku tak mengenakan pakaian dalam sama sekali di balik gaun satu potong ketat dan mini yang kupakai. Aku telah kehilangan rasa malu yang menghambatku. Pasangan suami istri tetanggaku tersebut tampak kaget dan senang mengetahui hal ini. Apalagi ketika Bruno mengalami orgasme dan semprotan air maninya sampai ke liang senggamaku dan membasahinya.

Setelah itu, aku semakin berani. Kami meneruskan acara dengan berdiri dan berjalan mengelilingi seisi rumah. Sementara Bruno dengan setia mengikutiku. Kepalanya senantiasa menyusup ke dalam rokku yang sangat pendek. Kami semua bersikap seolah mengabaikan anjing itu. Dengan gaun satu potong yang sangat ketat menempel di badan, sodokan moncong Bruno yang terus-menerus dari depan maupun belakang mengakibatkan terdorongnya rokku sampai ke pinggul. Aku tak pernah merapikannya kembali dan terus membiarkan Bruno menelanjangi dan menjilati selangkanganku.

Sekali-sekali mereka memberikan komentar seperti, "Aku tak dapat mengatakan betapa senangnya kami menemukan seorang wanita yang mau melayani anjing kami", atau yang sejenisnya. Aku membiarkan mereka tahu kalau aku menikmati pernyataan-pernyataan yang kasar dan cabul itu.
Sandra kemudian berkata, "Ya begitu. Apa lidah si Bruno masuk ke dalam memekmu, Maria?"
"Ya, langsung ke dalam rahimku, kurasa", jawabku.
Ia tersenyum dan berkata, "Kau benar-benar manis mau melakukan itu untuknya. Aku tak tahu ada wanita sepertimu di sini. Kami tadinya sudah siap-siap untuk menyewa seorang wanita profesional, tapi di mana kau bisa temukan wanita yang mau menyewakan tubuhnya sendiri sebagai betina untuk memuaskan birahi seekor anjing piaraan?"
Aku menyukainya. Aku mengatakan padanya bahwa aku dengan senang hati mau bertindak sebagai betina untuk anjing jantan mereka dengan gratis.
Sandra berkata, "Maria, kupikir Bruno lebih senang jika kau melakukan pelayanan ini dengan bugil. Seekor betina tidak mengenakan pakaian, bukan?" Aku pun melucuti pakaianku. Sejak itu, mereka menyebutku sebagai betina, atau betina si Bruno.

Bersambung ke bagian 02

bercinta dengan Poly

Namaku Florence dan sekarang aku sedang berada di Roma, Itali. Aku tinggal bersama kekasihku yang bernama Erick. Aku selalu bercinta dengan Erick setiap malam hari dan itu membuatku selalu horny. Suatu ketika, Erick terpaksa pergi menjalankan bisnis di Malaysia selama seminggu dan aku sendirian selama seminggu di rumah. Aku sebenarnya ingin sekali mencari teman pria di saat kekasihku tidak di rumah karena vaginaku terasa gatal sekali tanpa adanya pria di sisiku.

Di Apartemenku, Erick memelihara seekor anjing jantan dan kami sangat menyayanginya. Di suatu hari saat Erick tiada di rumah, aku tengah menonton film porno bersama Polly, nama anjingku. Di saat aku sedang menonton film porno itu, aku membayangkan seandainya Erick berada di sisiku dan bersetubuh denganku. Hal ini membuat vaginaku menjadi basah dan aku menjadi sangat terangsang.

Di saat aku sedang terangsang, tiba-tiba Polly naik ke atas tubuhku dan tiduran. Ia sekali-kali mengonggong karena dia mau minum. Lalu timbul ide gilaku, aku mengambil sekotak susu bubuk dan mencampurnya dengan air. Setelah itu, aku kembali ke sofa di mana aku barusan tiduran dan aku membuka pakaianku semua. Setelah aku bugil, aku menumpahkan susu untuk Polly di liang vaginaku. Setelah itu, aku memanggil Polly dan sambil menggoyang-goyangkan ekornya, dia meloncat ke sisiku dan mulai menjilati susu yang berada di sekitar vaginaku. Polly mulai menjilati vaginaku dan klitorisku, ini membuatku menjadi menggelinjang-gelinjang dan tiba-tiba saja aku menjadi mendesah kenikmatan tapi Polly terus menjilati vaginaku mungkin karena dia merasa haus dan lapar makanya ia terus menjilati susu di sekitar ceruk bibir kewanitaanku.

Aku mendesah tak karuan karena kenikmatan yang tiada tara ini sambil aku memilin puting di payudaraku. Aku menjadi nikmat sekali dan Polly masih terus menjilati vaginaku karena di vaginaku masih banyak susu yang tumpah dan sebagian dari susu itu sudah tumpah di sofa tempatku tiduran. Aku masih ingat bahwa di saat Polly menjilati vaginaku. Aku sudah beberapa kali mengalami klimaks yang nikmat sekali, tetapi aku masih kurang puas.

Setelah beberapa saat Polly menjilati susu yang masih ada di vaginaku. Akhirnya Polly menghentikan jilatannya karena sudah tidak ada susu lagi, yang ada hanya cairan kewanitaanku tetapi sekarang Polly menjilati cairan itu dan membuatku semakin menjadi gila. Nikmat sekali, susah dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah itu, aku berteriak keras karena ada sesuatu kenikmatan yang mendorongku untuk bergetar hebat dan keluar dari vaginaku. Aku tahu bahwa itulah cairan kenikmatan seorang wanita. Aku kurang puas dan aku langsung mengangkat Polly. Aku melihat penis Polly yang panjang dan nampaknya lebih besar dari punya Erick. Mungkin karena Polly adalah seorang anjing herder yang sangat besar dan gagah jadinya ini yang membuat penisnya besar sekali.

Aku mulai mengangkat Polly dan nampaknya Polly mengetahui maksud dari majikannya sehingga dia hanya menurut saja. Aku mulai menghisap-hisap penis Polly yang belum tegang dan nampaknya Polly mulai menikmati karena terlihat di saat Polly menjulurkan lidahnya dan menggonggong beberapa kali. Aku tidak perduli dan aku terus menghisapnya. Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi dan aku memaksa supaya penis Polly yang panjang dan sudah tegang itu memasukki liang kenikmatanku. Polly tidak memperlihat perlawanan dan ia nampak menuruti kemauan majikannya.

Setelah kemaluan Polly memasuki liang vaginaku, rasanya nikmat sekali dan aku mulai memeluk Polly yang berada di atasku. Nampaknya Polly juga menikmatinya karena dia mulai menjilati mukaku sehingga wajahku menjadi penuh dengan air liur anjing.

Aku terus memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh Polly dan ini membuat penis Polly mengocok keras liang kenikmatanku. Aku mendesah tak karuan dan tanpa kusadari mencium moncong Polly dan menjilati moncong Polly yang basah. Aku terus bergoyang dan bergoyang sampai akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam diriku. Aku terus mendorong-dorong supaya penis Polly terus memasukki liang kenikmatanku dan akhirnya aku merasakan bahwa Polly sudah klimaks dan aku merasakan ada air mani anjing yang memenuhi liang kenikmatanku. Di saat yang bersamaan, aku juga tidak tahan lagi dan aku mengeluarkan cairan kewanitaanku yang membasahi penis Polly. Aku masih ingat bahwa di saat Polly klimaks, ia melolong-lolong dan menggonggong bagaikan srigala dan aku sempat kaget tapi aku tetap cuek saja.

Akhirnya aku melepaskan Polly dari pelukanku dan ia mengibas-ngibaskan ekornya sambil mengarahkannya ke vaginaku. Aku masih capek sekali karena kenikmatan yang baru kurasakan dari anjing peliharaan kami. Masih belum reda rasa lelahku, Polly sepertinya melihat ada cairan yang keluar dari dalam vaginaku dan karena ia pikir itu susu untuk dia, dia menjilati vaginaku yang masih basah oleh spermanya dan cairanku sendiri. Hal ini membuatku bergairah kembali dan aku mendesah terus sambil memilin-milin putingku kembali dan ini membuat hari terindah dalam kehidupanku. Akhirnya aku bergetar dan mengeluarkan kenikmatanku lewat cairan yang keluar dari vaginaku. Aku akhirnya mengangkat Polly turun dari sofa dan memasukkannya ke kandang. Di saat Polly sudah berada di kandang, dia mengonggong kepadaku seakan-akan mengucapkan terima kasih atau marah, aku sudah tidak tahu lagi.

Setelah itu, aku mandi untuk melepaskan bau anjing yang masih melekat di dalam badanku. Aku sempat tersenyum sendiri di kamar mandi mengingat pengalaman seks-ku bersama Polly, anjing peliharaan kami. Aku sempat tidak percaya bahwa seekor anjing bisa memuaskanku berkali-kali. Aku terus melakukan perbuatanku bersama Polly selama Erick tidak ada di rumah.

Seminggu kemudian, Erick kembali dari Malaysia dan setelah dia kembali, aku bercinta dengan Erick lagi. Kadang-kadang ketika aku berciuman dengan Erick, aku mendengar gonggongan Polly, mungkin dia cemburu karena dia tidak mendapat jatahnya? he.. he..he.., tapi aku tetap tidak bisa melupakan pengalaman bercinta dengan seekor anjing.

TAMAT

Template by : kendhin x-template.blogspot.com